Keteladanan Rasulullah dalam Membangun Masyarakat Adil dan Harmonis

  • 28 Agt 2026 05:41 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta— Keteladanan Rasulullah SAW sebagai pemimpin dalam membangun kehidupan masyarakat yang adil, harmonis, dan menjunjung keberagaman menjadi salah satu nilai penting yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Indra Putra Bil Faqih, S.Sos.I., M.Sc.(pengasuh Pondok Pesantren Madaniah), dalam program Mutiara Pagi RRI Yogyakarta, Jumat , 28 Agustus 2026. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan contoh kepemimpinan yang menempatkan keadilan sebagai prinsip utama, termasuk ketika memimpin masyarakat Madinah yang terdiri atas berbagai kelompok dan pemeluk agama.

Menurutnya, kehidupan masyarakat Madinah pada masa Rasulullah menunjukkan bahwa keberagaman bukan menjadi penghalang untuk menciptakan kehidupan sosial yang tertib dan berkeadilan. Rasulullah SAW mampu membangun kesepakatan bersama melalui Piagam Madinah, yang menjadi salah satu landasan dalam mengatur hubungan antarkelompok di tengah masyarakat yang majemuk.

Piagam Madinah mengatur kehidupan bersama dengan menekankan hak dan kewajiban berbagai kelompok masyarakat, sehingga tercipta hubungan sosial yang dilandasi tanggung jawab, keamanan, dan keadilan. Kepemimpinan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa hukum dan keadilan harus ditegakkan tanpa membedakan latar belakang seseorang.

Ustaz Indra juga mengingatkan ketegasan Rasulullah SAW dalam menegakkan keadilan. Salah satu ungkapan yang terkenal adalah ketika Rasulullah SAW menegaskan bahwa apabila Fatimah binti Muhammad melakukan kesalahan yang layak dikenai hukuman, beliau sendiri akan menegakkan hukum tersebut.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa keadilan dalam kepemimpinan Rasulullah SAW tidak boleh dipengaruhi oleh hubungan keluarga, kedudukan, maupun status sosial. Setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum.

Selain menjunjung keadilan, Rasulullah SAW dikenal memiliki empat sifat utama yang menjadi keteladanan dalam kepemimpinan, yaitu siddiq atau selalu berkata benar, amanah atau dapat dipercaya, fathanah atau memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan, serta tabligh atau menyampaikan kebenaran dan amanat.

Keempat sifat tersebut menjadi fondasi penting bagi seorang pemimpin. Kejujuran membangun kepercayaan, amanah menjaga tanggung jawab, kecerdasan diperlukan dalam mengambil keputusan, sementara tabligh memastikan pesan dan kebijakan disampaikan secara benar dan terbuka kepada masyarakat.

Keteladanan Rasulullah SAW dalam memimpin masyarakat Madinah, menurut Ustaz Indra, menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan keadilan, menjaga kepercayaan, menghormati keberagaman, serta memberikan perlindungan dan rasa aman kepada seluruh masyarakat.

Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang juga memiliki keberagaman agama, suku, budaya, dan latar belakang sosial. Semangat keadilan dan penghormatan terhadap keberagaman sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dapat menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan sosial yang damai, inklusif, dan saling menghormati.

Dengan demikian, keteladanan Rasulullah SAW tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Islam, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai kepemimpinan yang berintegritas, adil, dan mampu merangkul keberagaman masyarakat. (rh)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....