Angie Jadi Sarjana Pertama, Bawa Harapan Keluarga
- 23 Agt 2026 11:55 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Benedicta Angie Azaria Prasetyo Rahayu yang biasa dipanggil Angie resmi menyandang gelar sarjana setelah menyelesaikan pendidikan S1 Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menjadi salah satu wisudawan dalam Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung di Auditorium Grha Sabha Pramana UGM pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Bagi Angie, wisuda tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik selama empat tahun sekaligus awal untuk memasuki fase kehidupan berikutnya. Ia mengaku merasa lega karena berhasil menyelesaikan pendidikan dengan hasil yang menurutnya memuaskan. “Tentunya saya merasa lega, karena setelah empat tahun akhirnya saya bisa lulus dengan hasil yang puji Tuhan memuaskan,” ujarnya.
Selama menjalani perkuliahan di Sastra Inggris UGM, Benedicta memperoleh berbagai pengalaman yang menurutnya memperluas pandangan terhadap dunia. Dua pengalaman yang paling berkesan adalah ketika mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Korea Selatan dan mengikuti konferensi penelitian internasional.

Menurut Angie, kedua pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kesempatan untuk berkembang terbuka luas bagi anak muda Indonesia. Ia menilai dukungan terhadap pendidikan dan pengembangan generasi muda perlu terus diperkuat agar potensi yang dimiliki tidak terbuang sia-sia. “Saya melihat ada banyak kesempatan yang terbuka, tidak hanya bagi saya tetapi juga bagi banyak anak muda Indonesia,” katanya.
Keputusan Angie memilih Sastra Inggris berawal dari ketertarikannya terhadap bahasa sejak kecil. Ketika duduk di bangku SMA, ketertarikan tersebut berkembang menjadi rasa ingin tahu mengenai bagaimana bahasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana bahasa memiliki makna dalam kehidupan manusia. Setelah berdiskusi dengan keluarga, ia akhirnya memilih Sastra Inggris UGM.
Dalam perjalanan akademiknya, Angie mengaku mendapat banyak pelajaran, termasuk dari dosen yang pernah mengajarinya mata kuliah tata bahasa, Dra. Sharifah Hanidar, M.Ed. Dosen tersebut mengajarkan bahwa proses belajar tidak harus selalu tentang kesempurnaan, tetapi juga keberanian untuk melakukan kesalahan dan terus berkembang.

Tantangan terbesar Angie selama kuliah adalah menyeimbangkan tuntutan akademik dengan kehidupan pribadi. Selain dituntut berpikir kritis dalam mengkaji sastra dan bahasa, ia juga aktif dalam kegiatan unit kegiatan mahasiswa (UKM) serta menjalani pekerjaan paruh waktu. Proses tersebut membuatnya belajar keluar dari zona nyaman sekaligus membangun pola pikir yang lebih reflektif dan merdeka.
Angie juga menyebut wisuda kali ini memiliki arti khusus bagi keluarganya karena ia menjadi sarjana pertama di keluarga. Pencapaian tersebut dipandang sebagai harapan baru bahwa pendidikan dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Ia sendiri berencana bekerja terlebih dahulu untuk memperoleh pengalaman sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan S3.
“Harapan saya, saya bukan menjadi satu-satunya orang yang dimerdekakan melalui pendidikan. Saya dan keluarga sudah merasakan betapa terbantu dan terberkatinya kami melalui pendidikan, terutama melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah,” ucapnya. Angie berharap pendidikan pada masa mendatang dapat menjadi prioritas dan dipandang sebagai hak utama masyarakat Indonesia.
| Baca juga: Fakultas Filsafat UGM Wisuda 30 Sarjana |

Kebahagiaan serupa dirasakan Yusita Rahayu, orang tua Angie. Ia mengaku bahagia dan bangga melihat putrinya berhasil melewati berbagai tantangan selama menempuh pendidikan di UGM. Salah satu perjuangan yang paling diingat adalah ketika Angie berusaha mengikuti program pertukaran pelajar ke Korea Selatan. “Bisa masuk ke UGM itu berkat yang luar biasa, karena kebaikan dan kemurahan Tuhan semata. Kalau sekarang bisa diwisuda, itu pun karena kebaikan Tuhan,” ujarnya.
Bagi keluarga, wisuda Angie menjadi pengalaman pertama yang memiliki arti besar. Yusita berharap pencapaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi anak-anaknya yang lain untuk menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Ia juga melihat Angie kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, mampu mengatur waktu dan menyelesaikan tanggung jawab dengan lebih baik.
Setelah wisuda, Angie berharap dapat segera memperoleh pekerjaan yang layak sekaligus menjadi sarana untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Ia ingin ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi dapat digunakan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat. “You did great, you do great, and you will do just fine,” pesannya kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan.
Sementara itu, Yusita berpesan agar putrinya terus percaya dan bergantung pada kemurahan Tuhan dalam menjalani kehidupan setelah wisuda. Ia berharap Angie mampu mengembangkan ilmu yang telah diperoleh untuk kemajuan diri sendiri dan sesama. Bagi keluarga, perjalanan pendidikan Angie kini menjadi bagian dari kenangan sekaligus pijakan untuk menatap masa depan dengan penuh kesiapan menghadapi berbagai tantangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....