Meraih Kehidupan manusia yang sejati yang hayatan thayyibah
- 11 Agt 2026 07:15 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Setiap manusia pada dasarnya memiliki kehendak dan cita-cita yang sama, yakni mendambakan kehidupan yang baik, bahagia, serta sejahtera, baik untuk dirinya sendiri maupun seluruh anggota keluarganya. Menurut Ustadz Syamsul Ma'arif SAg, MSi., dari Kemenag DIY saat memberikan ceramahnya di pro 4 rri Yogyakarta , menyoroti realitas perjuangan hidup manusia yang tak kenal lelah.
"Manusia bekerja mencari nafkah dengan sungguh-sungguh, bahkan ada peribahasa kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, senantiasa memeras keringat sepanjang hari. Semua usaha tersebut tidak lain berorientasi pada satu tujuan: meraih kehidupan yang layak, baik, dan mulia," ujar Samsul.
Meskipun setiap orang mendambakan kehidupan yang baik, Ustadz Samsul menekankan adanya perbedaan sudut pandang di tengah masyarakat mengenai ukuran kebahagiaan itu sendiri. Sebagian masyarakat sering kali mengukur kebaikan hidup semata-mata dari kecukupan materi atau kelimpahan harta benda.
Menurutnya, tolok ukur kekayaan materiil saja tidak cukup untuk mendefinisikan kehidupan yang sejati bagi seorang mukmin. Kehidupan yang baik harus dilandasi oleh ketaatan, ketenangan jiwa, serta keberkahan dari Allah SWT. Kehidupan manusia yang sejati dan bernilai baik (hayatan thayyibah) adalah kehidupan yang bersih dari perbuatan jahat yang mengotori ilmu, iman, dan amalan sehari-hari.
Ustadz Samsul mengatakan ukuran kehidupan yang baik bagi seorang muslim merujuk pada penjelasan ulama ternama Imam Al-Qurtubi, terdapat 5 pilar. Menurutnya lima pilar itu meliputi Rezeki yang Halal, Sifat Qana'ah, Taufik dan Sa'adah serta Jannah
Di antara kelima pilar tersebut, Ustadz Samsul menegaskan kehalalan rezeki menjadi landasan utama yang sangat krusial. Rezeki yang halal merupakan modal dasar dalam membentuk kehidupan yang penuh keberkahan. Selain rezeki yang halal, menurutnya pilar penting berikutnya adalah Qana'ah, yaitu sikap ridha, bersyukur, dan menerima segala pemberian serta takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Selanjutnya ia menyebut hal penting ketiga dan keempat dalam kehidupan adalah taufik dari Allah SWT dan sa'adah atau kebahagiaan dan ketenteraman jiwa. Taufik merupakan keselarasan antara keinginan manusia dengan kodrat serta iradat Allah SWT. Sementara saadah adalah Kebahagiaan dan ketentraman jiwa yang tidak dapat diukur secara lahiriah atau materialistis, melainkan melalui ketenangan spiritual.
Ustadz samsul menegaskan Keempat unsur tersebut rezeki halal, qana'ah, taufik, dan sa'adah merupakan pilar kebaikan selama hidup di dunia yang bersifat fana. Adapun pilar kelima yang menjadi puncak kebaikan adalah jannah (surga). Jannah merupakan wujud kebaikan yang kekal di akhirat kelak. Oleh karena itu, kelima hal tersebutrezeki halal, qana'ah, taufik, sa'adah, dan Jannah menurutnya menjadi landasan utama dalam mencapai kehidupan yang bermakna dan berbalas kebaikan di akhirat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....