Hati Laksana Tanah: Mengapa Ada yang Menerima Hidayah dan Ada yang Menolaknya

  • 30 Jul 2026 18:05 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis yang sahih, terdapat banyak perumpamaan yang memudahkan manusia memahami hakikat kehidupan. Salah satu perumpamaan yang sangat mendalam adalah hati manusia yang diibaratkan seperti tanah yang berinteraksi dengan air hujan.

Menurut Usadz Ammi Nur Baits hafizhahullah dalam salah satu kajian yang disiarkan melalui kanal YouTube anb channel , bahwa air hujan merupakan rahmat Allah yang turun kepada seluruh manusia tanpa membeda-bedakan. Namun, hasil yang ditimbulkan bergantung pada kondisi tanah tempat air itu jatuh. Demikian pula hidayah Allah yang disampaikan melalui Al-Qur'an dan sunnah. Semua manusia dapat mendengarnya, tetapi tidak semua hati mampu menerimanya.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Tanah yang subur akan menyerap air hujan dengan baik. Air itu kemudian menghidupkan bumi dan menumbuhkan berbagai tanaman yang bermanfaat bagi manusia. Padi, buah-buahan, sayur-mayur, dan berbagai tumbuhan lainnya tumbuh karena tanah tersebut siap menerima dan mengolah air yang turun.

”Inilah gambaran hati seorang mukmin. Ketika nasihat, ilmu, dan petunjuk Allah sampai kepadanya, ia menerimanya dengan lapang dada. Hidayah itu kemudian melahirkan amal saleh, ketaatan, akhlak mulia, dan berbagai bentuk kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain,” ujar Usadz Ammi

Ditambahkannya, sebaliknya, ada tanah yang keras seperti bebatuan atau pegunungan. Ketika hujan turun, air tidak terserap, melainkan hanya mengalir begitu saja tanpa memberikan manfaat bagi tanah tersebut. Keadaan ini menjadi perumpamaan bagi hati orang yang menolak kebenaran. Ia mungkin mendengar ayat-ayat Allah atau nasihat agama, tetapi tidak ada sedikit pun yang meresap ke dalam hatinya. Hidayah hanya berlalu di telinganya tanpa meninggalkan bekas.

Ada pula tanah yang tandus dan gersang. Kalaupun menerima sedikit air, tanah itu hanya menumbuhkan ilalang atau tumbuhan liar yang tidak memberikan manfaat. Demikian pula hati yang jauh dari keimanan. Yang lahir darinya bukan amal kebajikan, melainkan perbuatan yang merusak dan tidak bernilai di sisi Allah.

Karena itu, keimanan yang tertanam dalam hati akan tercermin melalui amal. Hati yang hidup akan melahirkan ketaatan, sedangkan hati yang mati akan melahirkan kemaksiatan dan berbagai keburukan.

Allah Ta'ala juga menjelaskan kondisi orang-orang musyrik dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis." (QS. At-Taubah: 28).

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah najis secara maknawi atau batin, bukan najis pada fisik atau tubuh mereka. Kenajisan tersebut berkaitan dengan akidah dan kekufuran yang ada dalam hati mereka.

Perumpamaan hati dengan tanah mengajarkan bahwa yang perlu terus dijaga bukan hanya amal lahiriah, tetapi juga kesuburan hati. Hati yang senantiasa disirami dengan Al-Qur'an, zikir, ilmu, dan ketakwaan akan terus hidup dan menghasilkan buah berupa amal saleh. Sebaliknya, hati yang dibiarkan mengeras akan sulit menerima hidayah meskipun berkali-kali mendengar kebenaran.(Rh)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....