Perayaan Ekaristi Malam 1 Suro di Gereja Kotabaru
- 16 Jun 2026 11:47 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Perayaan ekaristi diikuti umat Katolik dari berbagai lingkungan di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru. Perayaan misa malam 1 suro yang digelar menjadi momentum untuk doa, refleksi dan pelestarian nilai-nilai budaya Jawa.
Perayaan ekaristi dalam rangka peringatan 1 suro dengan tema nandur kabecikan ngaturake kedulan artinya berbuat baik dan mengucap syukur. Misa dimulai pukul 17.30 WIB pada Senin, 15 Juni 2026.
Misa malam 1 suro dipimpin oleh Romo Yohanes Agus Setiyono, SJ. Dengan lagu pembuka memujia Pangeran dalam kidung adi nomor 156.
Kasula dari Romo berwarna hijau. Warna hijau melambangkan harapan, pertumbuhan dan kehidupan iman. Altar Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru dihiasi oleh bunga-bunga segar yang berwarna putih dan daun hijau.
Perayaan ekaristi diiringi oleh tim paduan suara dan iringan instrument musik gamelan. Tim paduan suara yang bernyanyi dengan suara yang merdu berada di bagian sebelah kanan gereja.
Lagu-lagu yang dinyanyikan dengan menggunakan bahasa jawa. Lagu berikutnya adalah Gusti nyuwun kawelasan dalam kidung adi nomor 173.
Romo Agus, SJ menyampaikan homili dan menyapa seorang umat yang menggunakan busana jawa. Diantaranya umat itu ada anak laki-laki yang menggunakan baju nuansa jawa lengkap dengan jarik dan surjan.
“Ayo le ngadekko artinya mengajak anak itu untuk berdiri. Selanjutnya, Romo Agus mempersilahkan anak itu berdiri kedepan untuk mengenalkan diri.
Romo Agus juga berdialog dengan anak bernama Rafael tersebut perihal alasannya mengikuti misa di malam 1 Suro dan apa gunanya untuk anak-anak muda.
Homili dari Romo Agus, SJ mengatakan kepada umat untuk tetap melestarikan budaya Jawa. Ia juga mengajak umat untuk selalu melakukan tindakan baik dan memberikan pengampunan.
“Orang yang menanam kebaikan akan mendapatkan kebaikan,” katanya.
Refleksi Romo kepada umat yang hadir adalah bertindak baik, tapi sering kali dibicarakan di belakang. Romo Agus juga menambahkan bahwa Tuhan itu adil.
“Apa yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil jangan melawan orang jahat tapi yang menampar pipi kiri berikan juga pipi yang kanan. Ini sulit tapi kita tidak boleh kecil hati rantai pembalasan harus kita hentikan dan pengampunan yang bisa mengalahkan. Tindakan yang kita lakukan benar, terkadang kita gagal tetapi jangan berhenti untuk memberikan kebaikan,” katanya.
Lagu penutup misa malan 1 Suro umat menyanyikan lagu Rahayu pra Bangsa dari kidung adi nomor 702. Romo Agus juga mengucapkan terimakasih kepada misdinar, pengrawit, tim paduan suara, lektor, dan umat yang telah mengikuti misa.
Umat katolik dengan khusyuk mengikuti pahargyan ekaristi malam 1 Suro 1960 Hijriah dengan menggunakan Bahasa Jawa. Umat yang mengikuti misa malam 1 Suro juga memakai busana nuansa Jawa. Untuk wanita menggunakan kebaya, kain jarik, dan lengkap dengan sanggul.
Misa malam 1 Suro di lingkungan gereja katolik menjadi semangat inkulturasi untuk menjaga dan merawat kekayaan budaya lokal. Umat diharapkan dapat memperkuat kehidupan rohani dan merawat tradisi Jawa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....