Kebiasaan Belajar dengan SKS Dinilai Hambat Kinerja Otak dan Daya Ingat
- 04 Jun 2026 14:49 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kebiasaan Sistem Kebut Semalam (SKS) atau cramming masih menjadi pilihan banyak pelajar, mahasiswa, hingga pekerja ketika menghadapi ujian maupun tenggat pekerjaan. Metode belajar dengan menjejalkan materi dalam waktu singkat tersebut dianggap mampu memberikan hasil cepat.
Namun, kajian psikologi pendidikan menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut justru dapat menghambat proses belajar yang efektif dan berkelanjutan. Hal itu menjadi pembahasan dalam program Komunitalks Radio Repubik Indonesia (RRI) Pro 2 Yogyakarta bersama Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Elisabeth Dwi Anggraeni, S.Psi., M.A.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa SKS termasuk dalam metode Massed Practice, yakni aktivitas belajar yang dilakukan secara intensif dan terus-menerus dalam satu rentang waktu tanpa jeda yang memadai. Sebaliknya, metode Distributed Practice atau belajar terdistribusi membagi materi ke dalam beberapa sesi yang tersebar dalam beberapa hari atau minggu.
Menurut teori psikologi pendidikan yang dikemukakan Anita Woolfolk, metode belajar yang efektif memerlukan waktu, jeda, dan pengulangan berkala agar informasi dapat tersimpan lebih lama di dalam memori. “Informasi yang diperoleh melalui SKS hanya bertahan dalam memori jangka pendek dan mudah hilang setelah aktivitas belajar selesai,” ujarnya.
Secara ilmiah, otak manusia memiliki kapasitas terbatas dalam memproses informasi. Dalam teori pemrosesan informasi, memori kerja (working memory) hanya mampu menampung sejumlah kecil informasi dalam waktu singkat sebelum dipindahkan ke memori jangka panjang.
Ketika seseorang memaksakan diri mempelajari banyak materi dalam satu malam, memori kerja menjadi terlalu penuh sehingga informasi baru sulit diproses dan disimpan secara optimal. Kondisi ini sering menyebabkan kelelahan mental serta menurunnya kemampuan memahami materi secara mendalam.
Fenomena tersebut diperkuat oleh Teori Beban Kognitif (Cognitive Load Theory) yang dikembangkan John Sweller. Teori ini menjelaskan bahwa otak memiliki kapasitas terbatas untuk mengolah informasi. Saat seseorang belajar dalam kondisi tertekan oleh tenggat waktu, rasa cemas, kantuk, dan kelelahan akan meningkatkan beban kognitif ekstrinsik yang tidak berkaitan langsung dengan materi yang dipelajari.
Akibatnya, kapasitas otak untuk memahami dan mengintegrasikan informasi baru menjadi berkurang. “Otak kehilangan kemampuan untuk melakukan pemrosesan mendalam ketika beban kognitif ekstrinsik terlalu tinggi,” katanya.
Selain memicu kelelahan mental, SKS juga dapat menimbulkan fenomena yang dikenal sebagai Illusion of Competence atau ilusi kompetensi. Seseorang merasa telah menguasai materi karena terus-menerus membaca atau melihat informasi yang sama dalam waktu singkat.
Namun, ketika harus mengingat kembali informasi tersebut tanpa bantuan catatan, banyak yang mengalami kebuntuan berpikir atau blank. Kondisi ini menunjukkan bahwa materi belum benar-benar tersimpan dalam memori jangka panjang dan hanya terasa akrab karena sering dilihat.
Kurangnya waktu tidur juga menjadi faktor yang memperburuk dampak SKS. Dalam kajian neurosains, tidur memiliki peran penting dalam proses konsolidasi memori, yaitu memindahkan informasi dari memori sementara ke penyimpanan jangka panjang. Begadang untuk belajar atau menyelesaikan pekerjaan membuat proses tersebut terganggu sehingga hasil belajar menjadi kurang optimal. Otak yang tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup juga akan mengalami penurunan konsentrasi, daya ingat, serta kemampuan mengambil keputusan.
Para ahli psikologi pendidikan merekomendasikan penerapan Spaced Practice atau belajar berjarak sebagai alternatif yang lebih efektif. Metode ini dilakukan dengan membagi waktu belajar ke dalam beberapa sesi singkat yang konsisten, dipadukan dengan teknik Active Retrieval, chunking, serta pola tidur yang cukup.
endekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan daya ingat, pemahaman, dan retensi informasi dalam jangka panjang. Dengan memahami cara kerja otak secara alami, masyarakat dapat membangun kebiasaan belajar yang lebih sehat dan produktif tanpa harus bergantung pada SKS yang hanya memberikan hasil sesaat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....