YAKETUNIS Terus Menjadi Rumah Pendidikan Tunanetra Indonesia
- 24 Mei 2026 20:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (YAKETUNIS) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan dan kemandirian penyandang tunanetra di Indonesia. Yayasan yang berdiri sejak 12 Mei 1964 tersebut hingga kini masih aktif memberikan layanan pendidikan, asrama, hingga pendampingan bagi anak-anak tunanetra dari berbagai daerah di Tanah Air.
Sekretaris Yayasan YAKETUNIS, Haji Wiyoto, menjelaskan bahwa berdirinya yayasan tersebut berawal dari gagasan seorang tunanetra bernama Supardi Abdu Somad pada Januari 1964. Saat itu, Supardi yang merupakan guru kesenian di Panti Asuhan Citrajaya memiliki keinginan untuk meningkatkan harkat dan martabat kaum tunanetra melalui pendidikan. “Beliau punya cita-cita bagaimana tunanetra bisa hidup mandiri dan dihargai masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, gagasan tersebut kemudian mendapat dukungan dari tokoh-tokoh di Perpustakaan Islam Yogyakarta hingga akhirnya resmi mendirikan yayasan pada 12 Mei 1964. Sehari setelahnya, yayasan langsung dinotariskan dan mulai mengembangkan pendidikan formal bagi penyandang tunanetra. “Tanggal 7 Juni 1964 kami mendirikan sekolah Sekolah Lanjutan Pertama (SLP) dan Pendidikan Guru Agama (PGA) untuk tunanetra,” katanya.

Perjalanan YAKETUNIS terus berkembang. Pada 1968, yayasan mendirikan PGA Luar Biasa Negeri enam tahun di wilayah Maguwoharjo, Sleman. Sekolah tersebut kini berkembang menjadi Madrasah Aliyah Negeri di Sleman. Langkah itu menjadi bagian dari upaya membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi penyandang disabilitas netra di Yogyakarta.
Tidak hanya pendidikan tingkat dasar dan menengah, YAKETUNIS juga aktif memperjuangkan akses pendidikan tinggi bagi tunanetra. Salah satu tonggak penting terjadi pada 1973 ketika seorang mahasiswa tunanetra bernama Najamuddin diterima penuh sebagai mahasiswa di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta setelah sebelumnya hanya dianggap sebagai mahasiswa titipan.
Haji Wiyoto mengatakan perjuangan tersebut membuka jalan bagi banyak tunanetra untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saat ini alumni YAKETUNIS telah tersebar di berbagai kampus seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), hingga sejumlah perguruan tinggi lainnya. “Sekarang anak-anak tunanetra sudah bisa kuliah di mana-mana dan banyak yang berhasil,” ucapnya.
Ia menambahkan, selama puluhan tahun YAKETUNIS telah mengantarkan sekitar 80 alumni menyelesaikan pendidikan mulai jenjang S1 hingga S3. Sebagian besar lulusan kini bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya guru di sekolah luar biasa di berbagai daerah di Indonesia. “Kami bangga karena banyak lulusan menjadi ASN dan dosen di berbagai daerah,” ujarnya.
Saat ini YAKETUNIS menampung puluhan anak asuh yang berasal dari berbagai wilayah seperti Aceh, Jambi, Bojonegoro hingga Papua. Di kompleks yayasan terdapat siswa tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang menjalani pendidikan sekaligus pembinaan kemandirian di asrama. Selain pendidikan formal, siswa juga dibimbing mengembangkan bakat seni dan keterampilan lainnya.
Dalam operasionalnya, YAKETUNIS memperoleh dukungan dari bantuan pemerintah daerah serta donasi masyarakat yang datang secara sukarela. Haji Wiyoto mengaku pihak yayasan selama ini banyak merasakan bantuan tak terduga dari masyarakat sekitar maupun para donatur. “Kadang tanpa diminta ada saja yang datang membawa beras atau kebutuhan pokok lainnya,” katanya.
Ia juga berharap masyarakat tidak ragu menyekolahkan anak tunanetra agar mereka memiliki kesempatan berkembang dan hidup mandiri. Menurutnya, kasih sayang berlebihan dari orang tua justru kerap membuat anak tidak memperoleh pendidikan yang layak. “Kalau diberi kesempatan belajar, mereka bisa maju dan tidak kalah dengan yang lain,” ujarnya.
Ke depan, YAKETUNIS berharap semangat inklusivitas terhadap penyandang disabilitas netra terus tumbuh di tengah masyarakat. Yayasan tersebut ingin memastikan bahwa anak-anak tunanetra tetap memperoleh hak pendidikan, kesempatan berkarya, dan masa depan yang setara sebagai warga negara Indonesia. “Kami ingin terus mengantarkan anak-anak tunanetra menjadi pribadi mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....