Sistem Pengkuran Kinerja Universitas Perlu Dirubah

  • 23 Apr 2026 18:30 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tata kelola akademik di perguruan tinggi dinilai masih terlalu menekankan indikator formal. Sehingga, kondisi itu berpotensi menggeser makna aktivitas akademik.

Pendekatan humanistik pun didorong untuk memastikan sistem pengukuran kinerja tidak hanya berfungsi sebagai alat administratif semata. Tetapi juga mendukung pengembangan kualitas akademik.

Profesor Ietje Nazaruddin menyampaikan hal itu, dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar bertajuk, Reorientasi Tata Kelola Akademik Menuju Pendekatan Humanistik. Kegiatan itu berlangsung di Ruang Sidang Utama Gedung AR Fachrudin UMY.

Ia menyoroti organisasi modern, termasuk perguruan tinggi membutuhkan sistem pengukuran kinerja. Langkah ini sebagai bagian dari upaya sistematis untuk merencanakan, mengendalikan, dan mengevaluasi kinerja.

Namun, penerapan sistem tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran dosen sebagai aktor utama tridharma perguruan tinggi. Dosen sebagai aktor utama dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi tidak hanya digerakkan oleh mekanisme kontrol formal.

Tetapi juga oleh nilai profesional, motivasi intrinsik, serta komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Maka, sistem pengukuran kinerja yang dirancang tanpa mempertimbangkan dimensi psikologis dan sosial individu punya dampak negative.

”Yaitu berpotensi kehilangan makna substantifnya sebagai instrumen pengembangan organisasi,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....