Cegah Karhutla, Dosen UGM Minta Pemerintah Lakukan ini

  • 31 Mar 2026 21:06 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, sebagian besar wilayah Indonesia pada tahun ini akan mengalami musim kemarau lebih awal dan lebih panjang dari biasanya.

Sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang. Kemudian sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal atau maju dari biasanya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 16,3 persen wilayah akan mulai memasuki musim kemarau pada April mendatang. Wilayah tersebut meliputi Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera.

Menghadapi tantangan kemarau yang lebih panjang ini memunculkan ancaman resiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Sejumlah wilayah yang kena Karhutla, sudah terjadi di Riau mencapai 4.440,21 hektar dan terus bertambah.

Menghadapi proyeksi tantangan Kebakaran Hutan dan Lahan ini, kebijakan pengambilan keputusan pemerintah dan swasta didorong untuk lebih adaptif dengan pelibatan semua pihak.

Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah menekankan perlunya anggaran yang mengedepankan konsep manajemen darurat yang berkelanjutan. Anggaran sebaiknya menyesuaikan konsep manajemen darurat dari pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan.

Ia menyoroti peran strategis infrastruktur pembasahan gambut dibandingkan sekadar solusi jangka pendek. ”Untuk mengatasi karhutla, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sumur bor, dan sekat kanal masih dipandang sebagai instrumen yang dapat dilakukan secara sinergis,” katanya, Selasa, 31 Maret 2026.

Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan, sekat kanal cukup efektif sebagai langkah mitigasi karhutla. Tidak hanya jangka pendek tetapi juga jangka panjang.

”Gambut yang terbakar umumnya gambut yang terdegradasi,” ujarnya. ”Sehingga keberadaan sekat kanal diharapkan mampu mengurangi lolosnya air dari ekosistem gambut.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....