Siraman Rohani Ramadan Kemenag DIY Perkuat Integritas
- 25 Feb 2026 15:09 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kultum Ba’da Dhuhur dalam rangka Siraman Rohani Ramadan 1447 H yang digelar di Mushalla Al-Ikhlas Kanwil Kementerian Agama DIY, Selasa 24 Februari 2026), menghadirkan Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf (Penais Zawa), Nurhuda, sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya yang mengangkat tema “Puasa Melatih Amanah: Membangun Budaya Kerja Bersih Melayani”, Nurhuda menegaskan bahwa ibadah puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri serta memperkuat integritas dalam menjalankan tugas pelayanan.
Ia menjelaskan bahwa puasa memiliki dimensi batin yang mendalam. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seorang muslim dilatih untuk menjauhi segala bentuk perbuatan yang diharamkan, termasuk perilaku tidak jujur dan penyalahgunaan amanah. “Tidak ada sesuatu yang lebih dibenci Allah selain tubuh yang dipenuhi dengan sesuatu yang haram. Karena itu, puasa menjadi sarana membersihkan diri lahir dan batin,” ujarnya.
Lebih lanjut, Nurhuda mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa setan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Puasa, menurutnya, berfungsi melemahkan dorongan hawa nafsu yang dapat menjadi pintu masuk bagi godaan untuk berbuat tidak baik. “Ketika hawa nafsu mampu dikendalikan, maka potensi untuk melakukan pelanggaran dalam pelayanan juga dapat ditekan,” ujarnya.
Dalam konteks pelayanan publik, ia menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang bersih dan berorientasi ibadah. Setiap layanan yang diberikan, kata dia, hendaknya diniatkan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. “Siapa pun yang datang untuk dilayani, baik pejabat maupun masyarakat biasa, kaya ataupun sederhana, harus diperlakukan dengan sikap hormat, santun, dan profesional,” ucapnya.
Nurhuda juga mengingatkan agar aparatur menyadari bahwa keberadaan institusi sangat bergantung pada masyarakat yang dilayani. Dengan kesadaran tersebut, setiap pegawai akan terdorong untuk memberikan pelayanan terbaik, bukan merasa paling benar atau paling berkuasa.
Selain itu, ia mengajak seluruh pegawai untuk memaklumi perbedaan karakter dan latar belakang masyarakat. Setiap individu memiliki tingkat pemahaman, kondisi sosial, dan kebiasaan yang berbeda. Oleh karena itu, pelayanan harus diberikan dengan kesabaran, empati, serta tetap mengedepankan etika.
Menutup tausiyahnya, Nurhuda mengajak seluruh jajaran Kanwil Kemenag DIY menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat komitmen integritas. “Puasa melatih kita menahan diri dari sesuatu yang halal pada waktu tertentu. Maka sudah seharusnya kita lebih mampu menahan diri dari hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pelayanan. Dengan demikian, kualitas layanan kita akan semakin baik dan diridhai Allah SWT,” katanya mengakhiri. (Ajeng)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....