MBG di SMPN 1 Turi Berdampak Positif, Ketepatan Distribusi Perlu Dibenahi

  • 05 Okt 2026 12:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Selama kurang lebih satu tahun, siswa SMPN 1 Turi Sleman menerima program makan bergizi gratis (MBG). Kepala SMPN 1 Turi Hospita Henny Koerniati menyebut sejauh ini program MBG turut memberikan dampak positif bagi siswa. Utamanya bagi siswa dengan kondisi ekonomi berkekurangan.

Meski demikian, Hospita menyebut ada sejumlah hal yang patut menjadi evaluasi satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di wilayahnya. Termasuk soal ketepatan waktu distribusi sekaligus variasi menu.

“Pada saat pendistribusian kadang tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan sehingga itu mengganggu proses pembelajaran,” kata Hospita saat ditemui di SMPN 1 Turi, Senin, 5 Oktober 2026.

Koordinator MBG SMPN 1 Turi Ikhsanuri menjelaskan setiap hari pihaknya selalu menerima 433 porsi MBG. Seharusnya MBG datang sesaat sebelum istirahat pertama, yakni pada pukul 09.20 WIB.

Lalu, pada pukul 09.30 WIB siswa bisa mulai mengonsumsi MBG hingga waktu istirahat selesai. Namun, Ikhsan menemui beberapa kali pengantaran MBG dari SPPG terlambat bahkan hingga pukul 12.30 WIB.

Ikhsan mengaku was-was dengan kelayakan MBG saat terlambat didistribusikan. Meski begitu, sebelum dikonsumsi MBG selalui dicek menggunakan alat detektor yang diciptakan oleh siswa SMPN 1 Turi. Di sisi lain, kantin sekolah tetap beroperasi dan orang tua juga diminta untuk tetap membawakan bekal kepada siswa.

“Kita kan pulangnya agak sore. Kita tidak tahu nanti MBG-nya itu mengganjal atau tidak. Kita pulangnya kan jam 14.00 WIB. Kita tetap waspada untuk anak-anak ini diinfokan tetap membawa bekal, tetap bawa minum,” ujar Ikhsan.

Dia menambahkan setiap hari setidaknya ada 6 siswa yang bertugas untuk mengambil ompreng sekaligus membagikan MBG di kelas masing-masing. Setelah selesai makan ompreng kembali dikumpulkan di aula dan lorong sekolah untuk dikembalikan lagi ke SPPG.

Terkait menu, Ikhsan mendorong SPPG untuk menyediakan menu yang lebih bervariasi dengan olahan sayur. Sebab, menurut Ikhsan banyak siswa yang tidak mengonsumsi sayur hingga habis.

“Kalau ini masih ada terus untuk anak-anak itu ya makanan bervariasi, makanan sehat. Kadang-kadang kan yang ditampilkan setiap hari itu kan nutrisi, gizi semuanya itu pasti ada. Tapi kan tidak cukup itu, makanan harus berserat. Sebagai anak-anak kan harus suka sayur,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....