Dari Limbah Air Kelapa Jadi Solusi Sampah, Kisah Kreatif Pemuda Sleman
- 19 Mei 2026 15:47 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, sLEMAN - Permasalahan bau menyengat dari tumpukan sampah melahirkan inovasi lingkungan ramah masyarakat karya pemuda kreatif asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pemuda bernama Ria Karyanto berhasil menciptakan cairan pengurai sampah alami bernama Coconut Water Organic Decomposer (CWeOD) berbahan dasar limbah air kelapa.
Inovasi CWeOD mengantarkan Mas Ria meraih penghargaan Juara Pemuda Pelopor DIY bidang teknologi berkat kontribusinya menciptakan solusi pengelolaan sampah yang efektif, murah, dan ramah lingkungan.
Ide menciptakan cairan pengurai sampah tersebut muncul ketika Ria bekerja mengelola sampah di TPS 3R Sukoharjo setiap harinya. Bau menyengat dari tumpukan sampah membuatnya terdorong mencari referensi ilmiah mengenai teknologi penghilang aroma tidak sedap.
Meski penelitian serupa pernah dilakukan akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), formula rinci cairan pengurai tersebut belum banyak diketahui masyarakat. Kondisi itu membuat Ria melakukan berbagai percobaan mandiri hingga berhasil menemukan komposisi formula CWeOD secara bertahap.
CWeOD menggunakan air kelapa sebagai bahan utama karena kandungan mikro dan makronya dinilai sangat baik untuk membantu proses pengomposan alami. Air kelapa tersebut diperoleh gratis dari limbah jasa parut kelapa yang sebelumnya hanya dibuang begitu saja oleh masyarakat.
Selain air kelapa, formula CWeOD juga memanfaatkan molases, bakteri pengurai cair, air kapur, dan bahan tambahan lain dalam skala kecil sehingga tetap aman bagi lingkungan sekitar.
Pada tahap awal pengembangan, Ria mengaku sempat mengalami kegagalan saat cairan CWeOD meledak akibat reaksi bahan yang tidak seimbang. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting dalam menyusun formula yang aman digunakan untuk pengolahan sampah organik masyarakat.
Hasil penggunaan CWeOD kini terbukti mampu mengurangi bau menyengat sekaligus mempercepat proses pembusukan sampah organik menjadi kompos berkualitas. Lingkungan sekitar TPS 3R Sukoharjo pun menjadi lebih nyaman, higienis, dan mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan.
Selain efektif, biaya produksi cairan CWeOD juga sangat murah. Untuk menghasilkan sekitar 15 liter cairan pengurai sampah, biaya yang dibutuhkan hanya sekitar Rp15.000.
Murahnya biaya produksi membuat inovasi tersebut berpotensi diterapkan secara luas oleh masyarakat dalam mendukung pengelolaan sampah rumah tangga sehari-hari.
“Saya mengambil air kelapa sisa jasa parut setiap pagi, lalu mencampurkannya menjadi formula penghilang bau sampah,” ujar Ria.
Ia juga mengajak generasi muda lebih peduli terhadap pengelolaan sampah organik di lingkungan masing-masing.
“Pesan saya kepada pemuda, pilah sampah organik kemudian semprot menggunakan CWeOD agar masalah bau sampah segera selesai,” ucapnya.
Melalui inovasi sederhana berbasis limbah air kelapa, pemuda Sleman tersebut membuktikan bahwa kreativitas anak muda mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan sampah yang lebih sehat dan berkelanjutan. (Gilang)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....