Minimnya Permodalan, Jadi Kendala Operasional KDMP Sinduadi
- 23 Jan 2026 16:49 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Lurah Sinduadi, Senen Haryanto menyebut operasional Koperasi Desa Merah Purih (KDMP) Kalurahan Sinduadi terkendala permodalan. Senen mengatakan, dukungan modal yang sebelumnya dijanjikan pemerintah pusat melalui Danantara hingga saat ini belum diterima. Senen mengaku proses pengajuan permodalan terbilang sulit.
“Dijanjikan lunak dan mudah, tetapi ternyata sulit dan berbelit-belit,” ujar Senen saat ditemui di KDMP Kalurahan Sinduadi, Jumat, 23 Januari 2026.
Senen mengaku telah mengajukan permohonan modal sebesar Rp500 juta. Lalu, permohonan disepakati dengan besaran Rp375 juta. Namun, hingga saat ini pihaknya masih belum menerima suntikan dana modal itu. Saat ditanya terkait alasan belum turunnya dana modal, Senen juga mengaku tak mengetahui alasannya secara pasti. Senen menyebut, di awal pembentukan KDMP modal didapatkan dari iuran pada pengurus koperasi.
“Kami untuk kulakan ini mengumpulkan uang receh dari para pengurus. Terus terang, nggih sehingga bisa terwujud koperasi ini. Tanpa itu ya enggak bisa apa-apa. Harapan kami, koperasi ini kalau memang pemerintah juga bersungguh-sungguh ya segeralah diberi support,” kata Senen.
Sementara, Ketua KDMP Kalurahan Sinduadi Kliwon Suherman menyebut pihaknya memerlukan adanya peningkatan pasokan produk-produk koperasi. Seperti gas elpiji bersubsidi, pupuk, hingga produk-produk sembako. Dengan demikian, perlu adanya modal ekstra. Misalnya, pada produk gas elpiji subsidi yang semula hanya mendapatkan pasokan sebanyak 250 tabung, Kliwon berharap pada tahun ini bisa bertambah hingga 500 tabung. Ini membutuhkan modal tambahan untuk memasok tabung gas elpiji kosong sebesar Rp11,4 juta.
“Untuk pupuk kemarin hanya sekitar 1 sampai 2 ton. Ini kita target kami 6 ton. Jadi artinya ini tambah tambah modal untuk kulakan. Yang berikutnya untuk minyak, beras dan sebagainya kita butuh biaya modal awal untuk tambahan modal pembiayaan,” ucap Kliwon.
Kliwon menambahkan, KDMP mencatatkan laba pada produk pupuk dan sembako yang mencapai Rp14 juta. Sementara, untuk unit simpan pinjam mengalami penurunan dari yang ditargetkan sebesar Rp51 juta hanya tercapai 30 persen atau sebesar Rp18 juta. Dengan demikian total laba yang didapatkan KDMP berkisar Rp32 juta.
“USP (unit simpan pinjam) sekarang turun drastis karena kemarin dengan adanya pembentukan KDMP itu banyak biaya yang keluar dan menyita waktu,” kata Kliwon.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....