Wisata Alam Hadapi Tantangan Cuaca, Pancur Aji dan Cipanas Tetap Buka
- 04 Okt 2026 22:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Air terjun Pancur Aji di Sanggau sempat menutup sementara karena kondisi kekeringan yang ekstrem akibat cuaca yang tidak normal.
- Tirta Lebak Buana di Lebak mengalami penurunan signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan sebagai dampak langsung dari perubahan cuaca.
- Pengelola destinasi wisata alam menyesuaikan operasional mereka dengan kondisi lapangan dan merasakan dampak langsung pada aliran air serta minat pengunjung.
RRI.CO.ID, Jakarta - Cuaca ekstrem mulai menguji daya tahan wisata alam di Indonesia. Air terjun Pancur Aji di Sanggau sempat tutup karena kekeringan, sementara Tirta Lebak Buana di Lebak menghadapi penurunan kunjungan.
Kedua destinasi kini tetap beroperasi dengan menyesuaikan kondisi lapangan. Pengelolanya menilai perubahan cuaca berdampak langsung pada aliran air dan minat pengunjung.
Pancur Aji terletak di Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Daya tarik utamanya adalah air terjun tiga tingkat dengan dasar bebatuan dan kawasan hutan alami.
Pengunjung dapat menikmati aliran air terjun dan mandi di suasana alam yang sejuk. Pancur Aji juga menyediakan camping ground, area kegiatan keluarga, dan fasilitas wisata lainnya.
“Untuk kesannya yang pertama ke Pancur Aji, satu yang pasti jauh dari hiruk-pikuk kota. Jadi begitu mereka masuk, sudah merasakan dinginnya alam ditambah lagi aliran air air terjunnya bisa sambil mandi, macam-macam,” ucap Nur dalam percakapan bersama Pro 3 RRI, Minggu, 4 Oktober 2028.
Pengunjung juga bisa melakukan kegiatan seperti memanah dan menyumpit saat datang bersama keluarga ataupun berkelompok. Dalam situasi normal, Pancur Aji bisa mendapat sekitar 300 hingga 400 pengunjung pada hari biasa.
Namun, kemarau panjang membuat debit air di Pancur Aji terus menurun hingga aliran air menghilang. Kondisi tersebut memaksa pengelola menutup destinasi selama tiga minggu.
Pancur Aji kini kembali dibuka, meski aliran air belum mencapai kondisi normal. Nur menyebut curah hujan di kawasan itu masih rendah karena hujan baru turun sekali pekan ini.
Kabut juga masih menyelimuti kawasan wisata tersebut. Jarak pandang di ketinggian tertentu hanya mencapai sekitar satu kilometer.
"Kalau untuk di wilayah sini masih ada kabut, jadi belum normal. Jadi jarak pandang di ketinggian, kita bisa melihat ke arah pandang kurang lebih jaraknya satu kilometer,” ujarnya.
Berbeda dengan Pancur Aji, Tirta Lebak Buana berada di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten. Destinasi itu menawarkan pemandian air panas alami dengan lingkungan yang masih terjaga.
Pengelola Tirta Lebak Buana dan Ketua Pokdarwis Lebak, Manik Pramanik Nurman, menyebut destinasi tersebut memiliki suasana alami. Ia menilai keunikan itu membedakannya dari wisata air panas lain.
“Berbeda dengan wisata air panas lain, suasananya masih alami dan istimewanya di Lebak tidak ada gunung berapi,” kata Manik. Ia menyebut kedekatan Cipanas dengan Jawa Barat menarik wisatawan Jabodetabek.
Mayoritas pengunjung Tirta Lebak Buana adalah keluarga yang datang untuk berendam. Sebagian wisatawan juga datang secara rutin untuk berelaksasi.
Tirta Lebak Buana beroperasi selama 24 jam karena sebagian pengunjung memilih berendam malam hari. Tempat wisata tersebut memiliki tiga kolam dengan kedalaman berbeda.
Kolam tersebut mencakup kolam anak dan kolam khusus terapi. Fasilitas lainnya meliputi kamar mandi air panas dan area berendam.
Meski tidak terdampak kekeringan, Manik menyatakan jumlah kunjungan Tirta Lebak Buana menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Wisatawan umumnya lebih ramai pada akhir pekan dan menjelang akhir tahun.
Kedua destinasi tetap menjalankan aktivitas wisata sambil menghadapi perubahan cuaca dan fluktuasi pengunjung. Pancur Aji dan Tirta Lebak Buana juga melibatkan masyarakat sekitar melalui pedagang, UMKM, dan tenaga kerja lokal. (Shafira Nursyifa)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....