Lapangan Puputan Badung, Jejak Sejarah di tengah Kota Denpasar

  • 20 Sep 2026 14:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Setiap tanggal 20 September, masyarakat Bali memperingati peristiwa bersejarah ini sebagai bagian penting dari identitas dan memori kolektif mereka.
  • Kawasan bersejarah terkait dengan Perang Puputan Badung kini dikenal sebagai Lapangan Puputan Badung dan berfungsi sebagai ruang publik yang penting bagi warga Denpasar.

RRI.CO.ID, Jakarta — Setiap tanggal 20 September, masyarakat Bali mengenang Perang Puputan Badung yang terjadi pada 1906. Kini, kawasan tersebut dikenal sebagai Lapangan Puputan Badung dan menjadi ruang publik warga Denpasar.

Perang Puputan Badung merupakan perlawanan rakyat Badung terhadap pasukan Belanda. Peristiwa tersebut mencapai puncaknya pada 20 September 1906 dan menjadi bagian penting dalam sejarah Bali.

Kini, Lapangan Puputan Badung memiliki nama resmi Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung. Nama tersebut diambil dari Raja Badung yang memimpin perlawanan bersama rakyatnya.

Meski begitu, masyarakat setempat lebih sering menyebutnya sebagai Lapangan Puputan Badung. Area tersebut berlokasi di Jalan Surapati, kawasan pusat kota dan persimpangan titik nol Denpasar.

Sebagai ruang terbuka publik, lapangan ini digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Penelitian dalam Langkau Betang: Jurnal Arsitektur menyebut tempat ini banyak digunakan untuk olahraga, rekreasi, dan aktivitas berdagang.

Aktivitas yang paling banyak dilakukan pengunjung adalah olahraga, terutama jogging. Lapangan juga dapat diakses setiap saat oleh masyarakat untuk beraktivitas lainnya.

Selain berolahraga, warga memanfaatkan kawasan ini untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga. Dinas Pariwisata Kota Denpasar juga mencatat kegiatan seni dan budaya digelar pada hari tertentu.

Pada akhir pekan, kawasan ini menjadi salah satu tempat berkumpul masyarakat Denpasar. Mereka tampak berolahraga, melakukan kegiatan komunitas, rekreasi keluarga, hingga kegiatan usaha kecil.

Ramainya pengunjung juga memberi manfaat bagi pedagang dan pelaku usaha kecil di sekitar lapangan tersebut. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) menyebut aktivitas masyarakat pada akhir pekan ikut menggerakkan ekonomi mikro di kawasan tersebut.

Lapangan Puputan Badung juga memiliki Monumen Puputan Badung. Bangunan ini menjadi pengingat terhadap perjuangan rakyat Badung dalam peristiwa puputan.

Keberadaan monumen membuat kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi. Namun, ini juga menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah kepada masyarakat dan generasi muda.

Kawasan ini memperlihatkan perubahan fungsi sebuah tempat dalam kehidupan masyarakat. Dahulu berkaitan dengan peristiwa perjuangan, kini digunakan untuk berbagai kegiatan sehari-hari. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....