Chusnunia : Sampah jangan Jadi Kendala Pariwisata Berkelanjutan
- 31 Agt 2026 21:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Komisi VII DPR Soroti 4.836 Ton Sampah Makanan Labuan Bajo
- Sampah Makanan Ancam Pariwisata Berkelanjutan Labuan Bajo
- Sampah Nonrumah Tangga Labuan Bajo Capai 52 Persen
- Strategi Menu Engineering Kurangi Food Waste 45 Persen
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia, menyoroti persoalan sampah makanan di daerah wisata. Chusnunia mencontohkan Labuan Bajo, sebagai destinasi wisata favorit yang mengalami kondisi tersebut.
Menurutnya, masalah itu berpotensi mengganggu lingkungan, sekaligus mengancam daya tarik wisata. Ia menyampaikan pendapatnya itu, saat rapat kerja bersama Kementerian Pariwisata, Senin 31 Agustus 2026.
“Tanpa pengelolaan yang efektif, persoalan sampah makanan yang terus meningkat di Labuan Bajo berpotensi mengancam lingkungan setempat dan daya tarik wisata daerah tersebut,” ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi tertulis.
Chusnunia menilai, limbah makanan semakin menjadi persoalan lingkungan, terutama bagi daerah yang bergantung pada sektor pariwisata. Ia pun meminta persoalan tersebut mendapatkan perhatian serta penanganan serius, untuk mendukung pariwisata berkelanjutan.
“Jangan sampai justru persoalan sampah ini menjadi kendala dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan,saya kira hal ini perlu menjadi perhatian tersendiri,” katanya.
Politisi asal Lampung itu menyebut, sampah makanan menjadi tantangan besar dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Karena hal itu berdampak langsung terhadap kelestarian lingkungan, stabilitas ekonomi, dan keadilan sosial.
“Sektor pariwisata, khususnya industri perhotelan dan restoran (food and beverage), menyumbang volume sampah organik yang masif dari sisa hidangan wisatawan maupun kesalahan manajemen dapur,” ucapnya.
Studi World Resources Institute (WRI) Indonesia menyebut, sekitar 4.836 ton sampah makanan dihasilkan empat desa di Labuan Bajo. Pada tahun 2024, sumber sampah non-rumah tangga menyumbang porsi 52%, sementara sampah rumah tangga 48%.
Chusnunia juga mendorong pemerintah, mempelajari berbagai strategi manajemen makanan berkelanjutan, yang telah diterapkan sejumlah negara. Di Thailand ujarnya, strategi berbasis aktivitas seperti menu engineering, disebut mampu mengurangi food waste hingga 45 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....