SMN dan de Braga Kolaborasi Optimalkan Edukasi Sejarah di Bandung

  • 16 Jul 2026 03:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sindikasi Media Network dan de Braga by ARTOTEL menyelenggarakan program edukasi sejarah di Bandung.
  • Kegiatan kunjungan tersebut melibatkan jurnalis nasional untuk mengeksplorasi Museum Konferensi Asia Afrika.
  • Pihak hotel mengarahkan para pengunjung untuk mempelajari nilai-nilai sejarah di sekitar kawasan penginapan.

RRI.CO.ID, Bandung - Sindikasi Media Network bersama de Braga by ARTOTEL berkolaborasi mengoptimalkan program edukasi sejarah di Kota Bandung. Sinergi nyata tersebut diwujudkan melalui program kemitraan publikasi terpadu untuk melestarikan cagar budaya daerah.

Kedua pihak merancang program kunjungan wisata ke sejumlah akomodasi penginapan terkemuka di wilayah Jawa Barat. Salah satu agenda peninjauan tersebut berlangsung di Museum Konferensi Asia Afrika pada hari Rabu, 15 Juli 2026.

Ketua Sindikasi Media Network (SMN) Arif Suharto memperkenalkan wadah jurnalisme presisi tersebut kepada publik. Para jurnalis nasional dilibatkan secara langsung guna mengeksplorasi potensi wisata edukatif di pusat kota.

"SMN ini kumpulan dari beberapa media yang mau biasa meliput kegiatan 'hospitality' dan pariwisata. Lalu kami bergabung, kami membentuk wadah yang kami namakan SMN," ujar Arif.

Arif menambahkan bahwa komunitas jurnalis tersebut berkomitmen kuat untuk menyajikan informasi edukatif kepada masyarakat. Dukungan penuh dari penyedia jasa penginapan mempermudah pelaksanaan misi jurnalisme presisi oleh pelaku media.

"Kali ini, kita adalah tujuan ke Bandung. Kita bekerja sama dan mendapat dukungan langsung dari Artotel Group yang mau memperkenalkan produk barunya di Bandung," kata Arif.

Marketing Communication Manager de Braga by ARTOTEL Reza secara khusus mengarahkan para tamu mengeksplorasi sejarah. Formulasi paket wisata terpadu tersebut ternyata mendapatkan sambutan yang sangat hangat dari pelancong keluarga.

"Karena kita otentiknya itu de Braga itu sama Jalan Asia Afrika. Yang paling 'relate', yang paling dekat, yang paling bisa mudah terjangkau sama pengunjung itu ya Museum Asia Afrika," ujar Reza.

Reza menjelaskan aktivitas berbagi kisah masa lampau mampu memperkuat pemahaman nilai kebangsaan sejak dini. Rombongan jurnalis kemudian langsung disambut oleh petugas pemandu di depan pintu masuk gedung bersejarah.

"Iya, betul. Kalau misalkan kita biasanya 'include'-kan atau 'value'-nya itu adalah jalan-jalan ke museum, sejauh ini mereka sangat-sangat menikmati, 'enjoy', dan itu bisa tuker cerita jadinya," ucap Reza.

Petugas pemandu Museum Konferensi Asia Afrika Gafan menyambut hangat kedatangan rombongan pengunjung di lokasi. Seluruh tamu diajak berkeliling melihat berbagai macam benda peninggalan perjuangan para pemimpin bangsa Indonesia.

Gafan kemudian menunjukkan setiap objek koleksi bersejarah yang dirawat dengan sangat baik oleh pengelola. Warisan berharga sejarah masa lampau tersebut dinilai sangat tinggi bagi kelangsungan riset akademis generasi penerus.

"Koleksi-koleksi ini masih koleksi asli yang digunakan di tahun 1955. Saat ini dijaga oleh museum," ujar Gafan.

Para jurnalis juga diajak mengeksplorasi potensi industri pertahanan nasional yang berada di Kota Bandung. Eksplorasi seni tersebut kemudian diakhiri dengan melihat secara langsung proses pembuatan kain batik tulis tradisional Batik Komar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....