Wisata Sejarah Konferensi Asia Afrika Dikemas lewat Hotel Bandung
- 16 Jul 2026 01:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sektor perhotelan di Kota Bandung berkolaborasi mengemas sejarah Konferensi Asia Afrika menjadi paket wisata edukasi.
- Pemandu Museum Konferensi Asia Afrika menjelaskan kisah perjuangan para delegasi masa lalu kepada pengunjung.
- Manajemen hotel de Braga by ARTOTEL mendukung pelestarian sejarah lewat program wisata berjalan kaki.
RRI.CO.ID, Bandung - Sektor perhotelan lokal mengemas sejarah unik Konferensi Asia Afrika melalui paket wisata edukasi di Kota Bandung. Kolaborasi pariwisata berkelanjutan ini mengajak para wisatawan menyusuri jejak perjuangan bangsa kulit berwarna secara langsung.
Para pelancong yang terdiri dari para jurnalis mengikuti kegiatan edukasi bersejarah tersebut pada hari Rabu, 15 Juli 2026. Program tersebut membagikan kisah perjuangan masa lalu yang jarang terekspos oleh media massa nasional saat ini.
Pemandu Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) Gafan menerangkan aksi jalan kaki para delegasi menuju Gedung Merdeka. Kegiatan bersejarah tersebut dilangsungkan secara lengkap pada lokasi bersejarah yang kini menjadi destinasi wisata utama.
"Jadi para delegasi ini, Bapak Ibu sekalian, mereka dari hotelnya yang ada di dekat sini, itu tidak naik motor, atau tidak naik mobil menuju Gedung Merdeka, tapi mereka jalan bersama. Di mana mereka menunjukkan bahwa Asia-Afrika memang berbeda, secara budaya, secara pakaian, secara tampilan memang berbeda, tapi mereka punya satu tujuan yang sama, sama-sama ingin bekerja sama," kata Gafan.
Gafan menceritakan sejarah bangunan bersejarah tersebut yang dahulu berfungsi sebagai tempat hiburan elite Belanda. Hak istimewa untuk memasuki area tersebut awalnya hanya diberikan kepada warga Eropa serta orang asing tertentu.
"Yang bisa masuk ke gedung ini kala itu, cuma orang Belanda atau orang Eropa aja. Bahkan dulunya itu ada tulisan di depan sini, Bapak Ibu, 'Verbodene voor honden en Inlanders'," ujar Gafan.
Ia menjelaskan pengambilalihan kepemilikan gedung oleh Presiden Soekarno setelah masa kolonialisme Belanda resmi berakhir. Nama bangunan kuno itu diganti menjadi Gedung Merdeka guna menyebarkan semangat kebebasan bagi seluruh rakyat.
"Kenapa namanya diganti? Karena Bapak Soekarno kan memang seorang puitis. Dia berharap siapa saja yang masuk ke gedung ini itu bisa merasakan kemerdekaan, atau bisa merasakan hidup tanpa di bawah penjajahan," ucap Gafan.
Marketing Communication (Marcomm) Manager de Braga by ARTOTEL Reza menjelaskan skema program kemitraan wisata berjalan kaki. Pihak hotel merancang rute perjalanan khusus yang menghubungkan langsung area penginapan dengan lokasi cagar budaya museum.
"Sudah termasuk kerja sama dari de Braga untuk 'city strolling'. Jadi kita kan 'one stop shop', nginepnya di de Braga, kemudian kalau untuk jalan-jalan kita udah kerja sama sama museum jadi pengunjung bisa langsung masuk," kata Reza.
Reza menyatakan penerimaan positif dari para pengunjung hotel terhadap program wisata edukasi sejarah tersebut. Paket perjalanan bundling tersebut sengaja menyasar segmen keluarga sebagai fokus utama promosi pariwisata berkelanjutan mereka.
"Kalau misalkan kita biasanya 'include'-kan atau 'value'-nya itu adalah jalan-jalan ke museum, sejauh ini mereka sangat-sangat menikmati, 'enjoy', dan itu bisa, bisa tuker cerita jadinya. Nah dari situ kan mereka bisa cerita lagi, kalau misalkan bawa anak mending bawa ke museum, nginepnya di de Braga, kayak gitu." ujar Reza.
Sinergi cagar budaya dan perhotelan diharapkan mampu memperkuat sektor pariwisata edukasi di kawasan Kota Bandung. Langkah nyata ini menjadi bukti penting dalam upaya melestarikan nilai sejarah bangsa untuk generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....