Jakarta Dinilai Punya Potensi Jadi Kota 'Lifestyle' Internasional

  • 28 Mei 2026 20:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Delivering Asia menggelar workshop untuk memperkuat positioning Jakarta sebagai destinasi gaya hidup internasional.
  • Jakarta dinilai memiliki elemen kota global seperti hotel mewah, fasilitas MICE, budaya, kuliner, dan industri kreatif.
  • Momentum ulang tahun Jakarta ke-500 pada 2026 dianggap penting untuk membangun citra internasional baru.

RRI.CO.ID, Jakarta - Selama bertahun-tahun, Jakarta lebih sering dikenal sebagai pusat bisnis dan pemerintahan Indonesia. Gedung pencakar langit, kemacetan, kawasan perkantoran, hingga ritme kerja cepat menjadi citra yang melekat pada ibu kota.

Namun di balik wajah metropolitan itu, Jakarta sebenarnya menyimpan sisi lain yang mulai dilirik sebagai potensi baru. Yaitu, kota gaya hidup urban dengan energi yang unik dan dinamis.

Narasi itulah yang coba diangkat Delivering Asia dalam workshop yang digelar pada ajang Indonesia Tourism Xchange 2026, di The Langham Jakarta. Workshop tersebut mempertemukan pelaku industri perhotelan, komunikasi, dan pariwisata guna membahas bagaimana Jakarta dapat diposisikan sebagai destinasi gaya hidup internasional, bukan sekadar kota transit bisnis.

Pendiri dan CEO Delivering Asia, David Johnson, menilai Jakarta sebenarnya telah memiliki seluruh elemen utama kota global modern. Mulai dari hotel mewah, restoran kelas dunia, fasilitas MICE, kehidupan malam, budaya lokal, hingga komunitas kreatif yang terus tumbuh.

Namun, menurut dia, tantangan terbesar Jakarta bukan terletak pada kurangnya fasilitas. Melainkan bagaimana kota ini membangun cerita dan identitas yang kuat di mata dunia.

"Destinasi perkotaan terkuat di dunia tidak didefinisikan oleh landmark atau atraksi saja. Tetapi juga oleh perilaku dan gaya hidup masyarakatnya," kata David dalam keterangannya, Kamis, 28 Mei 2026.

Dalam workshop tersebut, Jakarta diperkenalkan sebagai "The High-Energy Heart of Indonesia" atau jantung Indonesia yang penuh energi. Narasi itu mencoba menempatkan Jakarta sebagai kota yang hidup selama 24 jam dengan perpaduan budaya modern dan lokal.

Di satu sisi ada rooftop bar, pusat hiburan, dan kawasan bisnis internasional. Sementara di sisi lain, terdapat kuliner tradisional, wellness khas Indonesia, hingga kehidupan komunitas kreatif yang berkembang cepat.

Menariknya, pembahasan juga menyoroti konektivitas kereta cepat menuju Bandung yang dinilai dapat membuka peluang konsep wisata dua kota. Bandung, yang dikenal sebagai Kota Kreatif Desain UNESCO, dipandang dapat melengkapi pengalaman urban Jakarta dan mendorong wisatawan tinggal lebih lama di wilayah barat Pulau Jawa.

Editor Harian Kompas, Budi Suwarna, menilai keaslian dan kekuatan cerita menjadi faktor penting dalam membangun citra kota modern. Menurutnya, Jakarta memiliki peluang besar menarik generasi baru wisatawan urban dan digital nomad seiring pertumbuhan infrastruktur dan gaya hidup kota yang semakin dinamis.

Momentum ini terasa semakin relevan karena Jakarta tengah memasuki usia ke-500 pada 2026. Perayaan tersebut dianggap menjadi kesempatan penting untuk membangun citra baru ibu kota Indonesia di panggung internasional.

Di tengah persaingan kota-kota Asia seperti Bangkok, Singapura, hingga Kuala Lumpur, Jakarta kini mencoba tampil bukan sebagai bayang-bayang kota lain. Melainkan sebagai kota dengan identitas, energi, dan karakter urban khas Indonesia sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....