Terlibat Konservasi Komodo, Menyelami Sejarah KBS dari Koleksi Wartawan

  • 05 Apr 2026 15:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Siapa sangka, salah satu kebun binatang tertua di Indonesia berawal dari hobi seorang wartawan
  • Kebun Binatang Surabaya resmi lahir pada 31 Agustus 1916
  • Kini, KBS tetap menjadi lembaga konservasi penting di Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia dan Jepang memperkuat pelestarian komodo melalui kerja sama konservasi satwa liar. Kebun Binatang Surabaya (KBS) dan iZoo Jepang terlibat aktif dalam program breeding loan komodo (Varanus komodoensis).

Mengenai hal ini, MoU konservasi satwa liar ditandatangani Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Gubernur Shizuoka Yasutomo Suzuki. Kesepakatan ini memperkuat kolaborasi bilateral di bidang pelestarian keanekaragaman hayati.

Sejarah KBS

Siapa sangka, salah satu kebun binatang tertua di Indonesia berawal dari hobi seorang wartawan? Ya, H.F.K. Kommer, wartawan kenamaan Surabaya, lah yang menjadi pionir. Kommer, keturunan Indo-Eropa, lahir dari ayah perwira KNIL dan ibu berdarah Prancis-Belgia-Jawa.

Dirangkum dari laman, disbudpar.surabaya.go.id,, Minggu, 5 April 2026, kariernya dimulai sebagai pegawai telegraf di Batavia pada 1892, lalu menjadi redaktur Pewarta Soerabaia. Tak hanya menulis berita, ia juga penulis sastra, salah satunya Tjerita Nji Paina yang terkenal.

Sejak remaja, Kommer gemar mengoleksi binatang. Ia sering melakukan ekspedisi untuk mengumpulkan satwa asli Indonesia, memeliharanya di halaman rumahnya di Kaliondo.

Pada 1912, Kommer mulai dikenal sebagai kolektor hewan sekaligus pemburu ular oleh warga sekitar. Namun awalnya, ia sama sekali tak berniat mendirikan kebun binatang.

Seiring bertambahnya koleksi, Kommer kewalahan merawat semuanya sendiri. Teman-temannya pun menyarankan membentuk wadah organisasi bernama Vereniging Soerabaiasche Planten en Dierentuin untuk membantu pengelolaan.

Kebun Binatang Surabaya resmi lahir pada 31 Agustus 1916. Koleksi binatang Kommer menjadi fondasi awal KBS yang berada di halaman rumahnya.

Pendirian KBS didukung Surat Keputusan Gubernur Jenderal nomor 40. Pengurus pertama terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa anggota lainnya.

Pada 28 September 1917, KBS pindah ke Grudo, Pandegiling, karena koleksi satwa semakin banyak. Dengan bantuan Bouwmaatschappij Koepang, tanah dan bangunan bekas pabrik gula disewa untuk menampung hewan.

Selama 1916–1918, KBS belum memungut tiket masuk. Namun, seiring biaya perawatan meningkat, pengurus mulai menarik tiket pada April 1918, 10 sen untuk pribumi dan 20 sen untuk non-pribumi.

Tahun 1920, Oost Java Stoomtram Maatschappij menyerahkan lahan seluas 30.400 m² di Darmo untuk perluasan kebun binatang. Tapi KBS sempat mengalami krisis pengurus pada 1922, sebelum pemerintah kota turun tangan tahun 1923.

Pengurus baru dibentuk 1925, dan pada 1927 Dewan Perwakilan Kota mengeluarkan keputusan mendukung perbaikan manajemen. Lahan tambahan pun disediakan untuk memperluas KBS.

Sejak saat itu, KBS mengalami perbaikan hingga 1940. Jumlah pengunjung meningkat pesat sebelum Perang Dunia II, meski masa pendudukan Jepang sempat membuat pengelolaan terabaikan.

Kini, KBS tetap menjadi lembaga konservasi penting di Indonesia. Bersama iZoo Jepang, KBS akan aktif melestarikan komodo dan mendukung diplomasi konservasi global.

Sekilas Satwa KBS

Kebun Binatang Surabaya (KBS) merupakan salah satu kebun binatang tertua dan terbesar di Indonesia.KBS menjadi pusat konservasi, edukasi, dan penelitian satwa bagi pengunjung dari berbagai usia dan latar belakang.

Informasi tersebut dirangkum dari ensiklopedia kelembagaan dan statistik Pemerintah Kota Surabaya, Minggu, 5 April 2026. Hingga saat ini, KBS menampung lebih dari 2.000 satwa dari berbagai spesies, termasuk mamalia, aves, reptil, dan pisces.

Koleksi unggulan KBS meliputi satwa langka asli Indonesia seperti Harimau Sumatra, Komodo, Orangutan, Bekantan, dan anoa. Beberapa koleksi terbaru menambah daya tarik edukasi dan konservasi bagi pengunjung.

Seluruh satwa dirawat di area seluas sekitar 15 hektar. KBS bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga pusat konservasi, edukasi, dan penelitian satwa liar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....