Papua Pegunungan Hadapi Ancaman Kemarau Panjang dan Fenomena El Niño 2026
- 27 Apr 2026 08:31 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, WAMENA – Masyarakat di Provinsi Papua Pegunungan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi akan lebih panjang dari biasanya. Hal ini disebabkan oleh adanya fenomena El Niño yang diperkirakan terjadi bersamaan dengan siklus musim kemarau tahunan.
Dalam dialog interaktif bersama RRI Wamena, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas 3 Wamena, Laura SM Runggeari, mengungkapkan bahwa awal musim kemarau di wilayah ini diprediksi mulai terjadi pada minggu ketiga bulan Mei 2026.
BMKG menjelaskan bahwa bulan April saat ini merupakan masa pancaroba atau peralihan. Namun, kondisi ekstrem diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus
"Tahun ini, karena adanya fenomena El Niño, musim kemarau diprediksi akan berlangsung selama 3 hingga 5 bulan ke depan. Untuk wilayah Kabupaten Lanny Jaya dan Nduga, kondisi ini bisa bertahan hingga September," ujar Laura. Ia juga menambahkan bahwa El Niño merupakan siklus 10 tahunan, di mana kondisi serupa terakhir kali terjadi pada tahun 2015.
Prakirawan BMKG, Sela Beatrix Nusi, menekankan pentingnya menjaga kesehatan karena suhu udara bisa menjadi sangat dingin di malam hari namun sangat terik di siang hari. Di beberapa wilayah seperti Distrik Kuyawage, Lanny Jaya, suhu ekstrem bahkan bisa turun hingga 3-4 derajat Celcius yang berpotensi membahayakan nyawa.
Selain suhu, BMKG menyoroti budaya masyarakat yang sering membakar lahan untuk "memanggil hujan". Sela memperingatkan bahwa tindakan ini justru sangat berbahaya karena tanah yang kering tidak memiliki daya serap air, sehingga saat hujan tiba-tiba turun, risiko tanah longsor akan meningkat drastis.
BMKG telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten untuk memastikan ketahanan pangan. Beberapa langkah mitigasi yang disarankan meliputi:
- Manajemen Air Bersih: Menghemat dan menampung air hujan selagi masih tersedia.
- Penyesuaian Pola Tanam: Petani disarankan menanam komoditas yang tidak memerlukan banyak air, seperti jagung.
- Stop Pembakaran Lahan: Menghentikan aktivitas pembakaran hutan untuk mencegah kerusakan ekosistem dan bencana longsor.
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dilaporkan telah mulai menyiagakan stok bahan pangan, termasuk beras, untuk mengantisipasi paceklik selama masa kemarau panjang ini.
Masyarakat diminta untuk terus memantau informasi cuaca resmi melalui aplikasi Info BMKG, media sosial resmi BMKG Wamena, atau siaran berita RRI.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....