Mutiara Ramadan: Menakar Puasa sebagai Transformasi Diri, Bukan Sekadar Rutinitas
- 04 Mar 2026 12:34 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, WAMENA – Sebuah pengingat penting bagi umat Muslim kembali mengemuka perihal "puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga".
Dalam kultum 'Mutiara Ramadan RRI' bertajuk "Puasa Ramadhan Tidak Sekedar Kewajiban", Dra. Hj. Nurhayaty, dari Kementerian Agama Kabupaten Jayawijaya, menekankan pentingnya menjadikan ibadah ini sebagai instrumen transformasi karakter dan sosial.
Nurhayaty menyoroti sebuah fenomena yang memprihatinkan di tengah masyarakat, di mana perilaku sehari-hari seringkali tidak mencerminkan nilai-nilai ketakwaan meskipun ibadah puasa dijalankan secara rutin.
Ia mempertanyakan mengapa banyak individu yang berpuasa namun tetap sulit meninggalkan larangan agama atau menjalankan perintah-Nya dengan rasa tanggung jawab.
"Ibadah puasa mampu melahirkan nilai perubahan dalam diri seseorang. Puasa seharusnya menjadi benteng tangguh untuk menahan laju hawa nafsu yang memuncak," paparnya (2/3/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa puasa yang berhasil adalah puasa yang memicu kesadaran akan kehadiran Allah. Kesadaran ini, menurutnya, harus berdampak nyata pada integritas pribadi dan kepedulian sosial.
Beberapa poin perubahan karakter yang diharapkan muncul dari ibadah puasa meliputi:
- Pengendalian Diri: Ketahanan untuk tidak mengambil apa yang bukan haknya, meskipun ada kesempatan.
- Kesalehan Sosial: Menumbuhkan rasa empati terhadap ketidakadilan dan kezaliman di sekitar.
- Integritas Pemimpin: Menekankan bahwa karakter jujur sangat dibutuhkan oleh seluruh komponen bangsa, terutama para pemimpin agar tidak menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.
Untuk mengubah puasa dari sekadar rutinitas menjadi ibadah yang berbobot, Nurhayaty merumuskan lima langkah strategis yang perlu diperhatikan umat, yaitu:
- Ikhlas: Meluruskan niat hanya karena Allah SWT.
- Sadar Tujuan: Memahami bahwa target akhir puasa adalah mencapai nilai ketakwaan.
- Kesalehan Ganda: Menyeimbangkan antara kesalehan pribadi (ibadah) dan kesalehan sosial (kepedulian pada sesama).
- Orientasi Perubahan: Menyadari bahwa puasa tanpa perubahan positif adalah kerugian.
- Meneladani Salaf Sholeh: Menjadikan Ramadhan sebagai tempat penggemblengan diri untuk bekal sebelas bulan berikutnya.
"Puasa yang tidak menghasilkan sesuatu kecuali rasa lapar dan dahaga adalah puasa yang merugi," pungkasnya sembari mengutip hadis riwayat Ahmad.
Refleksi ini menjadi pengingat di pertengahan bulan Ramadhan agar umat Muslim segera mengevaluasi kualitas ibadahnya sebelum bulan suci ini berakhir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....