Kisah Aris Wanimbo, Mantan Atlet Kini Profesional Migas
- 19 Des 2025 05:12 WIB
- Wamena
KBRN, Wamena: Perjalanan hidup Aris Wanimbo menjadi cerminan ketekunan, pengorbanan, dan kekuatan nilai keluarga. Lahir pada 4 Mei 1994, Aris merantau sejak usia sekolah dasar, menempuh perjalanan panjang dari Papua hingga akhirnya sukses berkarier di industri minyak dan gas bumi di Brunei Darussalam.
Aris dikenal sebagai mantan atlet lari di masa mudanya. Dunia olahraga membentuk disiplin, daya juang, dan semangat pantang menyerah yang kemudian menjadi bekal penting dalam pendidikan dan kehidupan profesionalnya.

Foto: Aris bersama rekan Atletnya).
Pendidikan dasarnya dimulai di SD YPPGI Sinakma Wamena, Papua Pegunungan, tempat ia menempuh kelas 1 hingga 4. Ia kemudian melanjutkan sekolah dasar di SD Kristus Raja Dok 9 dan lulus pada tahun 2007. Pendidikan menengah pertama ditempuh di SMP Negeri 1 Jayapura, lalu dilanjutkan ke SMA Negeri 2 Jayapura. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Aris merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Proklamasi Yogyakarta, mengambil Jurusan Teknik Perminyakan dengan fokus pada bidang pemboran minyak dan gas.

(Foto: Saat Aris merantau ke Yogyakarta untuk menempuh kuliah S1).
Saat ini, Aris Wanimbo bekerja di industri minyak dan gas bumi di Brunei Darussalam. Ia bergabung dengan Massutera Engineering Sdn Bhd, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa teknik migas. Kariernya di luar negeri menjadi pencapaian besar, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarga dan tanah kelahirannya di Papua.

(Foto: Potret Aris tengah bekerja saat ini di Brunei Darrusalam).
Di balik keberhasilan tersebut, Aris menegaskan peran besar kedua orang tuanya dalam membentuk karakter dan prinsip hidupnya. Ia mengenang pesan-pesan sederhana yang diterimanya sejak kecil, terutama saat tinggal bersama tete dan nenekn angkatnya pada masa sekolah dasar.
“Saya punya dua orang tua hebat yang pernah saya miliki. Saya selalu ingat pesan tete, kami pulang dari laut memancing pakai perahu waktu saya masih SD, sekitar tahun 2004. Tete bilang, ‘Aris, ko tinggal dengan tete dan nenek, apa adanya kita makan.’ Saat itu kami sering makan nasi dengan teh, sagu bakar, dan makanan sederhana lainnya,” kenang Aris. Pesan moral yang paling membekas baginya adalah nasihat tentang tidak melupakan jasa orang lain. “Tete selalu pesan, kalau jadi orang jangan seperti orang makan kacang lalu buang kulit. Pesan itu sampai sekarang saya pegang dan rindu,” ujarnya. Selain itu, Aris kerap diajak memancing. Dari kegiatan sederhana tersebut, ia belajar banyak tentang makna kesabaran dan proses hidup. “Ilmu memancing itu sangat bermakna bagi saya. Menunggu ikan makan butuh waktu, tidak bisa dipaksa. Dari situ saya belajar sabar dalam berproses. Pada akhirnya, kalau kita tekun dan sabar, buahnya pasti manis,” tutur Aris.

Foto: Potret Aris saat Magang di Pertmina).
Kini, nilai-nilai hidup yang ia pelajari benar-benar ia rasakan hasilnya. Bagi Aris Wanimbo, keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian karier di luar negeri, tetapi tentang bagaimana tetap rendah hati, menghargai proses, dan tidak melupakan akar kehidupan. Kisah Aris Wanimbo menjadi inspirasi bagi generasi muda Papua dan Indonesia: bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi besar, selama disertai kerja keras, kesabaran, dan nilai hidup yang kuat. (Agatha A).