Hilirisasi Kelapa Ditargetkan Rampung 2025
- 01 Des 2025 21:15 WIB
- Wamena
KBRN, Wamena: Pemerintah menargetkan program hilirisasi komoditas kelapa rampung pada tahun 2025. Program strategis ini diharapkan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional dengan proyeksi investasi mencapai Rp1,65 triliun dan mampu menyerap hingga 10 ribu tenaga kerja.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa industrialisasi kelapa tidak hanya berfokus pada produk turunan bernilai tinggi, tetapi juga pada perbaikan kesejahteraan petani.
"Hilirisasi kelapa diproyeksikan meningkatkan pendapatan petani. Alur logistik yang selama ini menyebabkan harga jual rendah dapat dipangkas," ujar Menteri Rosan di Jakarta, (1/12).
Menurutnya, penanaman modal langsung dari investor terbukti memperkuat struktur industri dalam negeri dan mendongkrak harga kelapa di tingkat petani. Salah satu investor utama yang telah masuk adalah produsen kelapa dan produk turunannya terbesar di China, Zhejiang FreeNow Food, dengan nilai investasi mencapai 100 juta dollar AS.
Meskipun nominal investasi hilirisasi non-mineral lebih kecil dibandingkan mineral, Rosan menekankan bahwa dampak pada penyerapan tenaga kerja justru jauh lebih signifikan dari sektor perkebunan, pertanian, dan kelautan.
Harga Kelapa Naik Drastis, Petani Dapat Insentif Optimal
Di sisi lain, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, melaporkan dampak positif hilirisasi langsung terasa di tingkat petani. Ia mengungkapkan, harga kelapa bulat di sejumlah sentra telah meningkat drastis.
"Sejak program hilirisasi berjalan, harga kelapa bulat telah naik dari sekitar Rp600 per butir menjadi Rp3.500 per butir," kata Mentan Amran.
Pemerintah menargetkan harga kelapa dapat mencapai minimal Rp6.000 per butir guna memberikan insentif optimal bagi petani dan mendorong peningkatan produksi.
Mentan menambahkan, hilirisasi akan memperluas nilai ekonomi komoditas kelapa yang sebelumnya hanya sekitar Rp24 triliun. Dengan industrialisasi menyeluruh, nilai tambah tersebut diperkirakan dapat meningkat hingga puluhan kali lipat dan berpotensi menciptakan jutaan lapangan kerja baru.
Pemerintah meyakini, hilirisasi komoditas strategis seperti kelapa dan gula akan menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi daerah sekaligus mendorong kontribusi yang lebih besar terhadap ekonomi nasional.