Resmi! BATA Hapus Bisnis Manufaktur Sepatu
- 10 Okt 2025 17:13 WIB
- Wamena
KBRN, Jakarta: PT Sepatu Bata Tbk (BATA), salah satu nama legendaris di industri alas kaki Indonesia, mengambil langkah restrukturisasi bisnis yang signifikan. Perusahaan secara resmi menghapus kegiatan usaha industri alas kaki untuk kebutuhan sehari-hari dari Anggaran Dasar Perseroan. Keputusan penting ini disahkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 25 September 2025.
Penghapusan lini bisnis manufaktur ini, yang juga menandai berhentinya produksi sepatu harian, merupakan respons strategis BATA terhadap tekanan finansial yang kian berat.
Langkah radikal ini diambil di tengah performa keuangan yang masih tertekan, sebagaimana tercermin dalam laporan Semester I 2025.
1. Penjualan Merosot Signifikan
BATA melaporkan penjualan bersih (net sales) anjlok hingga 38,74%. Angka penjualan turun drastis menjadi Rp 159,43 miliar, jauh di bawah capaian periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp 260,29 miliar. Penurunan ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi BATA, mulai dari perubahan perilaku konsumen hingga persaingan pasar yang ketat.
2. Perbaikan Rasio Kerugian
Meski penjualan tertekan, manajemen BATA berhasil menekan biaya operasional secara agresif. Hal ini terlihat dari net loss (rugi bersih) perusahaan yang menyusut tajam. Kerugian bersih BATA tercatat Rp 40,62 miliar di Semester I 2025, merupakan peningkatan signifikan dari kerugian yang mencapai Rp 127,43 miliar pada periode yang sama tahun 2024.
3. Struktur Neraca yang Menantang
Dari sisi neraca, BATA juga menghadapi tantangan. Per Juni 2025, total aset perusahaan menyusut menjadi Rp 377,98 miliar. Sementara itu, total liabilitas (kewajiban) berada di angka Rp 434,53 miliar, dengan ekuitas (modal) hanya tersisa Rp 56,54 miliar. Tingginya liabilitas dibanding ekuitas mengindikasikan struktur permodalan yang rapuh dan memerlukan perhatian serius.
Keputusan untuk menghapus produksi manufaktur dinilai sebagai upaya efisiensi dan adaptasi BATA. Perusahaan yang sebelumnya telah menutup pabrik di Purwakarta ini, kini diprediksi akan lebih berfokus pada bisnis ritel dan distribusi sepatu, termasuk penguatan channel e-commerce. Model bisnis baru ini diharapkan dapat membantu BATA beroperasi lebih ramping, menekan biaya, dan lebih lincah dalam merespons tren pasar.