Mengapa Bisnis Semakin Bergantung pada Video AI
- 03 Okt 2025 11:47 WIB
- Wamena
KBRN, Wamena: Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini merambah ke ranah produksi video. Banyak perusahaan dan pelaku usaha mulai mengandalkan teknologi ini untuk menciptakan konten pemasaran yang lebih cepat, murah, dan efisien. Video yang sebelumnya membutuhkan kru besar, peralatan mahal, serta waktu produksi panjang, kini bisa dihasilkan hanya dengan beberapa klik.
Salah satu alasan utama video AI semakin populer adalah kemampuannya menyesuaikan konten dengan kebutuhan spesifik audiens. Misalnya, perusahaan dapat membuat iklan dalam berbagai bahasa tanpa harus merekam ulang, atau menyesuaikan gaya visual sesuai tren yang sedang diminati. Hal ini memungkinkan bisnis menjangkau pasar lebih luas dengan biaya terbatas.
Selain itu, video AI menawarkan fleksibilitas tinggi. UMKM yang biasanya kesulitan memproduksi konten profesional kini bisa tampil kompetitif di media sosial. Dengan kualitas visual yang semakin realistis, konsumen sulit membedakan mana video yang dibuat dengan cara tradisional, dan mana yang dihasilkan oleh AI.
Namun, ketergantungan ini juga menimbulkan sejumlah tantangan. Isu keaslian konten, risiko manipulasi visual, serta potensi pelanggaran hak cipta menjadi perhatian serius. Menurut laporan Palo Alto Networks, di Indonesia:
• 55% bisnis pernah kehilangan data/informasi akibat serangan deepfake.
• 48% kehilangan kemitraan.
• 46% mengalami gangguan operasional.
• 45% mengatakan reputasi perusahaan ikut terdampak akibat penipuan deepfake
Banyak pihak menilai regulasi dan literasi digital sangat dibutuhkan agar penggunaan video AI tetap etis dan tidak merugikan.
Meski begitu, tren ini diprediksi akan terus meningkat. Video berbasis AI telah membuka peluang baru bagi bisnis untuk bersaing lebih kreatif, efisien, dan adaptif di era digital. Pertanyaannya, apakah perusahaan siap menghadapi konsekuensi dari inovasi yang serba instan ini?