Juara Olimpiade Untuk Menepati Janji Kepada Istri
- 22 Feb 2026 19:20 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, Wamena - Kisah Matthias Steiner bukan sekadar cerita tentang medali emas Olimpiade; ini adalah salah satu narasi paling mengharukan dan penuh keteguhan dalam sejarah olahraga modern. Ia dikenal dunia bukan hanya karena kekuatannya, tetapi karena sebuah janji yang ditepati di atas panggung tertinggi dunia.
Lahir di Austria, Steiner awalnya berkompetisi untuk negara kelahirannya. Namun, setelah perselisihan dengan federasi angkat besi Austria, ia pindah ke Jerman. Di sana, ia menemukan dukungan dan cinta sejatinya susann
Pada Juli 2007, setahun sebelum Olimpiade Beijing, dunia Steiner runtuh. Susann tewas dalam sebuah kecelakaan mobil yang tragis. Di saat-saat terakhirnya di rumah sakit, Susann meminta Matthias untuk tetap mengejar mimpinya menuju Olimpiade. Hancur karena kehilangan, Steiner hampir berhenti dari olahraga tersebut, namun ia memutuskan untuk menggunakan kesedihannya sebagai bahan bakar untuk memenuhi janji terakhirnya kepada mendiang istrinya.
| Baca juga: Fakta Menarik Tentang Ubi Ungu |
Pada final kelas berat (+105kg) di Olimpiade Beijing, Steiner tidak difavoritkan untuk menang. Ia harus bersaing dengan raksasa seperti Evgeny Chigishev dari Rusia dan Viktors Ščerbatihs dari Latvia.
Memasuki angkatan terakhir (Clean and Jerk), Steiner berada dalam posisi sulit. Untuk memenangkan emas, ia harus mengangkat beban seberat 258 kg sebuah beban yang jauh melampaui rekor pribadinya saat itu.
Saat ia melangkah ke panggung, suasana menjadi hening. Steiner berhasil mengangkat beban tersebut dengan kekuatan yang seolah-olah datang dari tempat lain. Ia mencatatkan total angkatan sebesar 203 kg ( snatch) + 258 kg (Clean and Jerk) = 461 kg.
Segera setelah barbel menyentuh lantai, Steiner meledak dalam kegembiraan, melompat, dan berteriak penuh emosi. Itu bukan sekadar perayaan kemenangan atletis, melainkan pelepasan beban emosional yang luar biasa.
Momen paling ikonik terjadi di atas podium. Saat menerima medali emasnya, Steiner tidak berdiri sendirian. Di tangan kanannya, ia memegang medali emas; di tangan kirinya, ia memegang foto susann.
Ia menangis tersedu-sedu di depan kamera global, menunjukkan kepada dunia bahwa medali itu adalah milik mereka berdua. Foto tersebut menjadi simbol cinta yang melampaui kematian dan dedikasi yang tak tergoyahkan.
| Baca juga: Kebiasaan Orang Yang Bermulut Manis |
"Saya bukan orang yang percaya takhayul, tapi saya yakin Susann ada di sana saat itu. Dia memberi saya kekuatan yang tidak saya miliki sebelumnya." — Matthias Steiner
Karier Steiner terus berlanjut dengan berbagai prestasi, namun ia juga mengalami sisi keras dari olahraga ini, insiden london 2012 saat mencoba mempertahankan gelarnya, barbel seberat 196 kg jatuh menimpa leher dan pundaknya. Beruntung ia selamat tanpa cedera permanen, meski harus mundur dari kompetisi. Setelah pensiun pada tahun 2013, Steiner melakukan perubahan gaya hidup drastis. Ia berhasil menurunkan berat badan lebih dari 45 kg dan menjadi duta kesehatan serta penulis buku tentang nutrisi dan kebugaran.
Kisah Matthias Steiner mengingatkan kita bahwa di balik setiap atlet hebat, sering kali ada perjuangan manusiawi yang jauh lebih berat daripada beban besi yang mereka angkat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....