Pinang sebagai Simbol Persaudaraan dan Tradisi Tanah Papua

  • 08 Feb 2026 10:42 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID, WAMENA – Di tanah Papua, konsep "permen" memiliki makna yang jauh berbeda dari definisinya di pabrik-pabrik modern. Ia tidak dibungkus plastik atau diproduksi massal, melainkan tumbuh subur di pohon, dibelah dengan tangan, dan dinikmati bersama. 

Mengunyah pinang bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah tradisi luhur yang mengikat persaudaraan dan merawat hubungan manusia dengan alam.

Di bawah rindang pepohonan atau di beranda rumah, bunyi khas "krak" saat buah pinang dibelah sering kali bersahutan dengan tawa renyah warga. Pemandangan ini menjadi potret sore yang jamak ditemui di berbagai kampung di Papua.

Campuran pinang, sirih, dan kapur diracik menjadi permen tradisional kebanggaan yang menjadi perekat sosial. Rasanya tak selalu manis. Ada sensasi getir yang berpadu dengan kesegaran, menyatu layaknya cerminan hidup itu sendiri.

Bagi masyarakat Papua, mengunyah pinang adalah momen krusial untuk berkumpul.

Di pasar, pelabuhan, hingga teras rumah, pinang menjadi pemicu percakapan. Di sanalah persahabatan terjalin dan keakraban tumbuh mengalir, sering kali tanpa perlu banyak kata.

Mama Papya sedang mengunyah pinang. Konon, mengunyah buah Pinang dapat menguatkan gigi dan gusi (Foto: Indonesia Kaya) 

Tradisi mengunyah pinang di Papua telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Pada masa prasejarah, hanya penduduk Papua di pesisir saja yang makan buah pinang, sejak 3.000 tahun lalu. Buah pinang diperkenalkan oleh manusia berbahasa Austronesia yang datang ke pesisir dan pulau-pulau kecil di Papua.

Tradisi ini dulunya identik dengan generasi tua. Namun kini, anak muda Papua terus melanjutkannya.

Langkah ini bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan bentuk kesadaran untuk merawat kebiasaan yang menandai identitas mereka.

"Bagi orang Papua, pinang bukan sekadar buah. Ia adalah ingatan, cara berbagi, dan bahasa tanpa suara," tulis Celine Veronica dalam ulasannya mengenai tradisi ini.

Di banyak tempat lain, permen mungkin hanya soal rasa di lidah. Namun di Papua, pinang adalah soal kebersamaan. 

Mengunyah pelan-pelan, bercerita tanpa tergesa, dan merasa cukup hanya dengan hadir bersama. Tradisi ini menegaskan bahwa yang dirindukan bukanlah sekadar buahnya, melainkan cara manusia saling mendekatkan diri dan pulang pada makna rumah yang sesungguhnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....