Jamu Seger Waras Tanpa Ampas

  • 29 Apr 2025 14:14 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Jamu adalah minuman herbal yang menjadi salah satu produk kebudayaan Nusantara sejak zaman leluhur. Sampai saat ini, jamu masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat terutama di kalangan orang tua untuk menunjang kesehatan.

Namun, banyak di antara konsumen jamu masih belum memahami efek jangka panjang jika meminum jamu dengan ampasnya. Meminum jamu dengan ampas, jika dikonsumsi cukup sering dan tidak dibarengi dengan konsumsi air putih yang cukup bisa berdampak buruk bagi kesehatan ginjal.

Oleh karena itu, berbagai inovasi dilakukan untuk mengendapkan ampas jamu dan menyaringnya supaya lebih aman untuk dikonsumsi. Salah satunya inovasi dari Atik Martini, pemilik usaha Jamu Bu Atik yang secara konsisten menjual produk jamu tanpa ampas.

Saat menjadi narasumber dialog Prigel ‘Kiprah UMKM’ Pro4 RRI Semarang, Sabtu (26/4/2025), Atik menjelaskan bahwa usahanya tersebut berawal dari masa pandemi COVID-19.

“Jamu Bu Atik ini saya buat saat pandemi COVID-19, karena waktu itu banyak yang mencari jamu untuk menjaga kesehatan,” jelasnya. Atik juga menjelaskan bahwa jamu buatannya tersebut dijual tanpa ampas karena mengalami tiga kali proses penyaringan.

Jamu Bu Atik menjual beberapa varian jamu seperti beras kencur, kunyit asem, mengkudu, sambiloto, bratawali, dll. “Masing-masing punya manfaat untuk berbagai jenis kebutuhan, dan yang paling penting semuanya tanpa ampas sehingga lebih amann,” lanjut Atik.

Produk Jamu Bu Atik saat ini dijual dalam kemasan botol atau ready to drink karena untuk kemasan instan (bubuk) masih dalam pengembangan.“Saya masih mengembangkan untuk yang instan, karena belum menemukan hasil terbaik,” tuturnya.

Tantangan terbesar Atik adalah mengedukasi masyarakat untuk memahami efek jangka panjang konsumsi jamu dengan ampas. Selain itu, Atik juga membuka sesi konsultasi bagi calon konsumen jamu untuk menceritakan keluhan dan memberi rekomendasi jamunya.

Untuk bahan, Atik juga memilih bahan dengan kualitas terbaik supaya rasa dan khasiat jamu buatannya benar-benar dirasakan. “Harus tetap menjaga kualitas, jadi jangan heran jika harga jamunya sedikit lebih mahal,” terang Atik. (Fahri Marlian)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....