UDD PMI Tuban Musnahkan Puluhan Kantong Darah Reaktif Penyakit Menular

  • 31 Jul 2026 12:15 WIB
  •  Tuban

‎RRI.CO.ID, Tuban - Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tuban musnahkan puluhan kantong darah sepanjang tahun 2026. Langkah ini diambil setelah uji laboratorium yang mendeteksi adanya reaktivitas terhadap empat jenis penyakit menular berbahaya pada puluhan kantong darah tersebut.

‎‎Berdasarkan data yang dihimpun, dari total 6.955 kantong darah yang berhasil dikumpulkan sejak Januari hingga Juni 2026, sebanyak 48 kantong dinyatakan tidak layak pakai dan terpaksa dimusnahkan. Meskipun demikian, angka tersebut dinilai relatif kecil hanya mencakup sekitar 0,6 persen dari keseluruhan perolehan darah.

‎‎Humas UDD PMI Tuban, Sarju Efendi, menjelaskan bahwa setiap tetes darah yang disumbangkan oleh masyarakat wajib melewati prosedur pemeriksaan ketat dengan empat parameter utama penyakit menular. Dari proses skrining laboratorium tersebut, petugas merinci temuan kasus reaktif diantaranya, Hepatitis B 37 kantong, Hepatitis C 1 kantong, HIV 6 kantong dan Sifilis 4 kantong.

‎‎"Pemeriksaan memang dilakukan sangat ketat untuk memastikan apakah darahnya benar-benar steril atau reaktif," ujar Sarju, Jumat 31 Juli 2026. Ia menambahkan, bahwa temuan kasus ini mayoritas berasal dari pendonor baru yang berpartisipasi dalam kegiatan mobile unit di luar kantor, meski beberapa di antaranya juga datang dari pendonor lama.

‎‎Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku, pendonor yang darahnya terdeteksi reaktif akan dinonaktifkan sementara dari daftar pendonor. Mereka diarahkan untuk menjalani masa jeda selama tiga bulan pertama sebelum melakukan pemeriksaan ulang, yang kemudian dilanjutkan pada evaluasi tiga bulan kedua.

‎‎Jika hingga bulan kesembilan hasil laboratorium masih menunjukkan tanda reaktif, PMI akan memberlakukan pencekalan (blacklist) permanen. Kendati demikian, Sarju mengakui bahwa penerapan SOP ini sering kali menghadapi hambatan psikologis dari sisi pendonor.

‎‎Banyak dari mereka yang memilih untuk tidak pernah kembali ke PMI setelah mengetahui hasil tes laboratorium tersebut. "Mayoritas cenderung takut dan syok setelah tahu hasilnya. Mereka yang awalnya berniat murni untuk beramal dan melakukan aksi sosial, justru mendapati kenyataan bahwa tubuhnya terdeteksi reaktif penyakit," ucapnya.

‎‎Ia juga menyoroti bahwa ketakutan terbesar masyarakat biasanya tertuju pada virus HIV. Padahal, jika ditinjau dari karakteristik penyebarannya, tingkat risiko penularan virus Hepatitis di lapangan justru jauh lebih tinggi dibandingkan HIV.

‎‎Di tengah temuan puluhan kantong darah yang terkontaminasi tersebut, pihak UDD PMI Tuban meminta masyarakat Tuban agar tetap tenang dan tidak berspekulasi negatif terhadap stok darah yang ada. PMI juga menegaskan, bahwa sistem penyaringan berlapis diterapkan secara konsisten demi menjamin keselamatan para pasien yang membutuhkan transfusi di berbagai rumah sakit wilayah Kabupaten Tuban.

‎"Seluruh darah yang reaktif dipastikan langsung dimusnahkan dan tidak akan pernah keluar dari laboratorium kami. Kami menjamin bahwa darah yang didistribusikan ke pasien benar-benar aman," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....