Wartawan Foto Anjar Dwi Pradipta Berpulang, Dunia Pers Lamongan Berduka
- 28 Mei 2026 19:25 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Lamongan - Kabar duka menyelimuti dunia pers di Kabupaten Lamongan. Salah satu jurnalis muda berbakat, Anjar Dwi Pradipta, wartawan foto Radar Lamongan, meninggal dunia pada Rabu malam 27 Mei 2026. Kepergian almarhum yang terkesan mendadak meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan seprofesi, hingga jajaran Pemerintah Kabupaten Lamongan.
Semasa hidupnya, Anjar dikenal sebagai sosok jurnalis visual yang tangguh dan berdedikasi tinggi. Melalui bidikan kameranya, ia banyak mengabadikan berbagai peristiwa penting, dinamika pembangunan daerah, hingga realitas sosial masyarakat Lamongan.
Di mata rekan-rekannya, almarhum merupakan pribadi yang rendah hati, pekerja keras, dan memiliki komitmen tinggi terhadap profesi jurnalistik. Kehadirannya di lapangan juga dikenal mampu mencairkan suasana, terutama saat proses peliputan berlangsung.
Sejak Rabu malam hingga Kamis pagi, rumah duka terus dipadati para pelayat yang datang memberikan penghormatan terakhir. Mulai dari kalangan jurnalis lintas media, tokoh masyarakat, hingga pejabat publik turut hadir menyampaikan belasungkawa.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, hadir langsung memimpin prosesi pelepasan jenazah sebelum diberangkatkan ke tempat pemakaman umum. Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan rasa kehilangan atas wafatnya salah satu mitra media terbaik Pemerintah Kabupaten Lamongan.
“Beliau merupakan wartawan yang baik dan pekerja keras. Dedikasinya dalam mengawal program pembangunan serta menyampaikan informasi visual kepada masyarakat melalui jurnalisme foto sangat luar biasa. Selain itu, almarhum juga dikenal sering memberikan motivasi dan energi positif kepada teman-teman seprofesinya di lapangan. Mari kita doakan bersama semoga almarhum ditempatkan di sisi terbaik Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan,” ujarnya, Kamis 28 Mei 202).
Kepergian almarhum juga menyisakan kisah haru dari pihak keluarga. Sang ibunda, Elis, mengenang komunikasi terakhir bersama putranya yang kini menjadi kenangan mendalam.
“Sebelum almarhum berpulang, saya sempat berbisik dan bilang ke dia, ‘jangan pergi dulu ya, nanti ibu ke sini lagi’. Kemudian almarhum melihat saya dan bilang ‘oke’ sambil menunjukkan gestur jempolnya. Ternyata itu menjadi komunikasi terakhir kami,” tuturnya.
Bagi komunitas jurnalis Lamongan, Anjar bukan sekadar rekan kerja, tetapi juga sahabat yang hangat dan selalu siap membantu. Saat rekan media mengalami kesulitan dalam peliputan, motivasi dan semangat yang diberikan Anjar kerap menjadi penyemangat tersendiri.
Selain aktif di dunia jurnalistik, almarhum juga dikenal memiliki kecintaan besar terhadap olahraga sepak bola. Kegemarannya itu sering dibagikan kepada rekan-rekan media, baik saat berdiskusi mengenai klub sepak bola maupun bermain bersama di sela aktivitas peliputan.
Mewakili keluarga, istri almarhum, Putri, menyampaikan terima kasih atas dukungan dan doa dari seluruh rekan media serta masyarakat. Ia juga memohon maaf apabila semasa hidup almarhum memiliki kesalahan.
“Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh teman-teman jurnalis di Lamongan apabila selama ini ada perbuatan, sikap, atau omongan yang kurang berkenan dari suami saya semasa hidupnya. Mohon dimaafkan,” katanya.
Kini, langkah dan bidikan kamera Anjar Dwi Pradipta di dunia pers Lamongan telah berhenti. Namun dedikasi, karya foto jurnalistik, serta semangat yang ditinggalkannya akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi jurnalis berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....