Bank Indonesia Jatim Berikan Literasi Keuangan kepada Pertuni Bojonegoro
- 27 Mei 2026 07:47 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Bojonegoro – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bojonegoro berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur menggelar sosialisasi edukasi yang mengusung tema "Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah". Kegiatan ini digelar Selasa, 26 Mei 2026 di Aula SLB Negeri Sumbang, Bojonegoro.
Agenda inklusif yang berlangsung interaktif dan penuh keakraban ini menyasar puluhan anggota Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Bojonegoro. Tujuannya agar mereka bisa lebih waspada dan memahami risiko kejahatan keuangan.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Bojonegoro, Nafiatin Ni'mah, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya acara ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk terus mengawal kesetaraan hak informasi serta kemandirian bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Memahami Rupiah adalah hak sekaligus kewajiban seluruh warga negara. Kami sangat mendukung program ini agar rekan-rekan kita memiliki akses informasi yang setara untuk mengenali dan menjaga uang Rupiah, sehingga terhindar dari risiko kejahatan keuangan seperti peredaran uang palsu," ujar Nafiatin,
Dalam pemaparannya, tim perwakilan BI Jawa Timur mengupas tuntas esensi dari gerakan CBP Rupiah yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Pada aspek Cinta Rupiah, para anggota Pertuni diajak untuk mengenali keaslian uang melalui kode khusus (blind code) berupa garis timbul (tactile bando) yang terletak di setiap tepi uang kertas.
Agar kode rabaan tersebut tidak rusak dan tetap berfungsi baik, BI menekankan pentingnya merawat fisik uang melalui gerakan "5 Jangan". Diantaranya, jangan dilipat, Jangan dicoret, jangan diremas, jangan distapler, jangan dibasahi.
Sementara itu, pada aspek Bangga dan Paham Rupiah, peserta diajak untuk selalu menggunakan Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara serta lebih bijak dalam membelanjakannya. "Ini harus kami sampaikan, agar mereka paham dan bisa membedakan mana uang asli dan palsu," katanya.
Dalam kegiatan tersebut, panitia juga menantang perwakilan anggota Pertuni untuk adu cepat menyusun lembaran uang Rupiah yang diacak, mulai dari pecahan terbesar hingga terkecil, hanya dengan mengandalkan indra peraba. "Selain edukasi, kami juga ingin melakukan tes seberapa cepat mereka bisa memahami keaslian uang. Kami juga berikan hadiah sebagai bentuk apresiasi," jelasnya.
Tidak hanya berfokus pada literasi keuangan, momentum ini juga dimanfaatkan untuk memberikan edukasi mengenai perkembangan penggunaan bahasa yang inklusif dan ramah sosial. Kepala SLB Negeri Sumbang, Muslihati, menjelaskan bagaimana evolusi istilah bagi penyandang disabilitas berkembang di masyarakat.
Istilah yang awalnya familier dengan sebutan 'cacat', kemudian berubah menjadi 'tunanetra', dan diserap ke dalam kata 'disabilitas'. “Namun, untuk penggunaan kalimat yang paling tepat, santun, dan dianjurkan saat ini adalah menggunakan kata 'Hambatan', seperti Hambatan Penglihatan, Hambatan Pendengaran, dan hambatan lainnya," kata Muslihati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....