Harga LPG 12kg Meroket, Resto di Tuban Terpaksa Lakukan Efisiensi Operasional

  • 26 Apr 2026 14:40 WIB
  •  Tuban

‎‎RRI.CO.ID, Tuban – Kenaikan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi ukuran 12 kilogram mulai berdampak serius bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satunya dirasakan oleh Andik, pemilik rumah makan Bale Rasa, yang mengaku harus melakukan efisiensi ketat demi menjaga keberlangsungan usahanya.

‎Andik mengungkapkan bahwa lonjakan harga Bright Gas 12 kg yang digunakannya saat ini sangat signifikan. Dari pantauannya di lapangan, harga eceran tertinggi yang semula berada di kisaran Rp195.000, melonjak menjadi Rp230.000, bahkan mencapai Rp250.000 per tabung.

‎"Kami memakai Bright Gas dan kenaikannya sangat signifikan. Hal ini memaksa kami melakukan efisiensi penggunaan LPG agar warung kami bisa terus beroperasi dengan kualitas yang tetap terjaga," ujar Andik, Minggu 26 April 2026.‎

‎Selain harga yang mahal, masalah distribusi juga menjadi kendala. Menurut informasi yang diterima Andik dari pihak penjual, pasokan gas saat ini sedang tidak lancar. Kondisi ini sudah dirasakan sejak lima hari terakhir dan masih tersendat hingga hari ini.‎

‎"Informasi yang saya dapat dari pangkalan seperti itu," katanya.‎

‎Dengan kepemilikan 4 tabung gas, Andik harus melakukan pengisian ulang (refill) rata-rata setiap tiga hari sekali. Mengingat gas adalah komponen utama dalam bisnis kuliner, namun ketidakpastian stok dan harga ini sangat membebani biaya operasional.‎

‎Meski biaya produksi membengkak, Andik memilih untuk tidak membebankan kenaikan tersebut kepada pelanggan. Untuk saat ini, Bale Rasa masih mempertahankan harga menu lama.

‎"Untuk saat ini kami masih bertahan dengan tidak menaikan harga. Tapi yang jelas, ini pasti berpengaruh pada operasional kami, karena LPG adalah jantung dari bisnis kuliner ini," jelasnya.

‎Menyikapi kondisi yang sulit ini, Andik berharap, adanya langkah nyata dari pemerintah. Ia menekankan pentingnya pengawasan distribusi agar harga di pasar tidak melambung jauh dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan.‎

‎"Kami berharap pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap distribusi dari pihak-pihak terkait. Kami ingin bisa mengakses gas dengan harga normal agar usaha kuliner kami bisa terus berlanjut," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....