Pengerajin Anyaman Bambu di Tuban Masih Andalkan Bahan Baku Luar Daerah
- 24 Feb 2026 13:40 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Tuban - Kelangkaan bahan baku bambu jenis apus di wilayah Kabupaten Tuban menjadi keluhan serius bagi para pengerajin anyaman bambu. Kondisi tersebut dinilai menghambat proses produksi, terutama bagi pengerajin yang mengutamakan kualitas hasil anyaman untuk memenuhi pesanan konsumen.
Salah satu pengerajin anyaman bambu di Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang, Kastam, mengungkapkan bahwa hingga kini para pengerajin terpaksa mendatangkan bambu apus dari luar daerah. Sebab, jenis bambu tersebut tidak tumbuh di wilayah Tuban, sementara permintaan produk anyaman masih terus berdatangan.
Menurut Kastam, bambu apus memiliki peran penting dalam menentukan mutu produk kerajinan. Ia menjelaskan, bambu lokal yang tersedia di Tuban cenderung memiliki serat kasar dan mudah patah, sehingga kurang cocok untuk dijadikan bahan utama anyaman.
“Kalau bambu biasa itu pasti mudah patah saat dianyam karena tidak lentur. Berbeda dengan bambu apus, hasilnya jauh lebih baik karena lentur dan seratnya sangat halus. Sayangnya, di Tuban memang tidak ada tanaman bambu apus,” ujarnya, Selasa, 24 Februari 2026.
Ia menduga, tidak tumbuhnya bambu apus di Tuban dipengaruhi oleh perbedaan karakter tanah dan suhu lingkungan. Meski demikian, ke depan para pengerajin berencana mencoba menanam bambu apus secara mandiri sebagai upaya mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
"Sebenarnya dulu sekitar tahun 1980 an, bambu apus masih ada di sekitar sini. Tapi sekarang sudah tidak ada," katanya.
Kelangkaan bahan baku tersebut akhirnya berdampak pada biaya produksi. Kastam menambahkan, pembelian bambu apus dari luar kota membuat harga produksi meningkat, terutama akibat ongkos pengiriman yang cukup tinggi jika pembelian dilakukan dalam jumlah terbatas.
Kondisi ini akhirnya berimbas pada harga jual produk anyaman yang menjadi sedikit lebih mahal dibandingkan produk berbahan bambu lokal. “Kalau belinya tidak dalam jumlah banyak, rugi di ongkos kirimnya. Itu sangat berpengaruh pada harga jual produk kami, tapi sejauh ini kami selalu mengerjakan berapapun pesanan, yang ada” ujarnya.
Di sisi lain, Kastam menyebut bahwa pesanan anyaman bambu bersifat tidak menentu. Sebagian besar warga setempat belum menjadikan kerajinan anyaman sebagai mata pencaharian utama, karena masih memiliki pekerjaan tetap lainnya, seperti bertani.
“Ini masih kami jalani sebagai pekerjaan sampingan, dan dikerjakan ketika ada pesanan. Karena mayoritas warga di sini juga punya pekerjaan lain,” katanya.
Meski begitu, kawasan tersebut yang kini berkembang sebagai sentra wisata edukasi anyaman bambu kerap menerima pesanan dalam jumlah besar. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir, para pengerajin sempat memperoleh pesanan hingga ratusan unit produk.
“Beberapa kali kami juga dapat pesanan 100 keranjang bambu,” ucapnya.