Dua Tahun Asta Cita, Lamongan Mantapkan Populasi Ternak Perkuat Lumbung Protein

  • 01 Okt 2026 15:00 WIB
  •  Tuban

RRI.CO.ID, Lamongan – Memasuki dua tahun pelaksanaan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Pemerintah Kabupaten Lamongan memperkuat sektor peternakan sebagai salah satu penopang ketersediaan protein hewani. Upaya tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan populasi ternak, tetapi juga menjaga kesehatan, produktivitas, hingga pengembangan genetik ternak lokal.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Lamongan, Shofiah Nurhayati, mengatakan arahan pemerintah pusat terkait pemantapan protein hewani harus ditangkap melalui langkah konkret di daerah. Salah satunya dengan memastikan populasi sapi, ayam, kambing, dan domba terus berkembang.

"Adanya perintah atau petunjuk dari Pak Presiden terkait memantapkan protein hewani tentunya harus kita tangkap tujuannya. Kita di Kabupaten Lamongan memastikan populasi ternak memang harus lebih banyak," ujarnya, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurutnya, sapi potong menjadi salah satu fokus utama karena kondisi wilayah Lamongan belum memungkinkan pengembangan sapi perah secara besar. Saat ini memang terdapat sapi perah di Lamongan, namun populasinya masih sangat terbatas dan produksi susunya belum optimal.

Karena itu, peningkatan populasi sapi potong dilakukan bersamaan dengan penguatan kesehatan dan reproduksi ternak. Salah satu langkah yang ditempuh melalui inseminasi buatan (IB), sehingga produktivitas dan keberlanjutan populasi ternak dapat terus dijaga. Data Pemkab Lamongan juga menunjukkan populasi sapi pada 2026 mencapai sekitar 108.792 ekor.

"Untuk membantu peningkatan populasi ternak, tentunya harus diiringi dengan kesehatan ternak yang harus kita dampingi terus. Sehingga sapi ini bisa berproduksi dan nantinya menjadi protein hewani yang menjadi salah satu keunggulan Kabupaten Lamongan," katanya.

Selain sapi, penguatan protein hewani juga dilakukan melalui pengembangan ayam broiler dan ayam petelur. Program @Klunting disebut turut membantu meningkatkan ketersediaan sumber protein berupa daging ayam dan telur. Sementara kambing dan domba juga menjadi bagian dari komoditas ternak yang terus dikembangkan.

Shofiah menyebut, penguatan sektor peternakan ke depan tidak berhenti pada peningkatan populasi. Pemkab Lamongan bersama Universitas Airlangga (Unair) mulai menyiapkan konsep peternakan terintegrasi atau terpadu yang menghubungkan sektor peternakan dengan pertanian dan perikanan.

Konsep tersebut nantinya dikembangkan dalam bentuk kawasan. Limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara limbah peternakan diolah menjadi pupuk untuk kembali mendukung sektor pertanian. Integrasi tersebut juga diarahkan dapat mendukung kebutuhan pakan ikan sehingga tercipta sebuah ekosistem produksi yang saling terhubung.

"Ini akan kita kembangkan ke sana. Kita awali dengan identifikasi kecamatan-kecamatan yang berada di sekitar kawasan yang bisa mendukung kegiatan peternakan terintegrasi. Setelah itu baru kita susun langkah ke depannya," ujar Shofiah.

Selain kawasan peternakan terpadu, Pemkab Lamongan juga mendapat dorongan untuk memiliki sumber daya genetik ternak yang menjadi ciri khas daerah. Salah satu yang dikaji adalah sapi Peranakan Ongole (PO) yang nantinya diharapkan dapat dikembangkan menjadi jenis atau populasi sapi dengan karakteristik khusus Lamongan.

Pengembangan tersebut membutuhkan penelitian dan pemuliaan genetik. Dukungan Unair, termasuk tenaga ahli di bidang embrio dan transfer embrio, diharapkan dapat membantu mengidentifikasi karakteristik ternak serta mempercepat pengembangan sumber daya genetik lokal.

"Pak Bupati juga meminta ada salah satu jenis sapi yang memang berasal dari Kabupaten Lamongan. Kita akan dibantu Unair, kebetulan ada profesor yang ahli embrio. Ini menjadi pekerjaan rumah kami untuk melihat jenis sapi lokal yang khusus untuk Lamongan," tuturnya.

Shofiah menargetkan proses identifikasi kawasan dan potensi ternak mulai dilakukan pada 2026. Dengan pendampingan Unair yang berlangsung selama dua tahun, tahapan tersebut diharapkan dapat dilanjutkan menjadi program yang lebih konkret pada 2027.

"2026 ini kita mulai dari identifikasi. Harapannya 2027 sudah bisa berjalan. Kebetulan pendampingan dari Unair dua tahun, tahun ini dan tahun depan, sehingga kita bisa bekerja sama dengan profesor-profesor ahlinya, baik ahli embrio maupun inseminator," kata Shofiah.

Langkah tersebut sekaligus memperluas arah pembangunan peternakan Lamongan, dari sekadar meningkatkan jumlah ternak menuju penguatan produktivitas, kesehatan, reproduksi, pemuliaan genetik, hingga terbentuknya kawasan peternakan yang terintegrasi dengan pertanian dan perikanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....