Wamentan: Indonesia Siap Hadapi El Nino, Cadangan Beras Aman hingga 11 Bulan

  • 30 Mei 2026 20:59 WIB
  •  Tuban

RRI.CO.ID, Lamongan - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono memastikan Indonesia siap menghadapi potensi fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Kesiapan tersebut didukung oleh cadangan beras nasional yang mencukupi serta berbagai langkah antisipasi yang telah dilakukan pemerintah di sektor pertanian.

Menurut Sudaryono, total cadangan beras nasional yang tersimpan di Perum Bulog, yang masih berada di lahan pertanian (standing crop), maupun yang beredar di masyarakat mencapai sekitar 28 juta ton. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional hingga 11 bulan ke depan.

"Cadangan beras kita sekitar 28 juta ton. Kalau El Nino berlangsung hingga enam bulan sekalipun, stok pangan kita masih aman. Bahkan dengan skenario terburuk, cadangan beras kita masih mampu bertahan selama 11 bulan," ujarnya, Sabtu 30 Mei 2026.

Ia menjelaskan, berdasarkan prediksi yang ada, puncak dampak El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus, dengan periode paling berat berlangsung selama tiga bulan, yakni Juli hingga September. Selain menjaga ketersediaan cadangan pangan, pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya mitigasi guna menjaga produktivitas pertanian. Kementerian Pertanian, kata Sudaryono, telah menyalurkan hampir 100 ribu unit pompa air ke berbagai daerah sejak 2024.

Tidak hanya itu, pemerintah juga melakukan perbaikan dan revitalisasi jaringan irigasi, normalisasi saluran air, hingga pengeboran sumber air untuk mendukung kebutuhan pertanian saat musim kering.

"Kami memberikan pompa air, memperbaiki irigasi, merevitalisasi saluran-saluran irigasi, termasuk pengeboran air di berbagai wilayah. Program irigasi perpompaan ini terus diperkuat untuk memastikan petani tetap bisa berproduksi," katanya.

Dengan berbagai langkah tersebut, Sudaryono optimistis sektor pertanian nasional tetap mampu menjaga produksi pangan meskipun menghadapi tantangan cuaca ekstrem akibat El Nino. "Insyaallah kita siap menghadapi El Nino, baik dari sisi produksi maupun cadangan pangannya. Pemerintah telah melakukan langkah-langkah antisipasi sehingga kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi," tuturnya.

Menanggapi optimisme pemerintah pusat dalam menghadapi potensi El Nino, Bupati Lamongan menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Lamongan terus menyiapkan berbagai strategi adaptasi terhadap perubahan iklim guna menjaga produktivitas pertanian dan mempertahankan posisi Lamongan sebagai lumbung pangan nasional.

Menurut Pak Yes sapaan akrabnya, salah satu fokus utama yang terus diperkuat adalah optimalisasi jaringan irigasi yang ada di Kabupaten Lamongan. Selain itu, pemerintah daerah juga memaksimalkan pemanfaatan bantuan pompa air melalui program irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan untuk mendukung kebutuhan air pertanian saat musim kemarau.

"Ke depan kita akan terus menyiapkan strategi-strategi menghadapi perubahan iklim. Saluran irigasi yang ada akan terus kita optimalkan, termasuk bantuan pompa melalui irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan. Normalisasi serta perbaikan jaringan irigasi juga terus kita lakukan," kata Yuhronur.

Ia mengungkapkan, dukungan pemerintah pusat melalui program Instruksi Presiden (Inpres) Irigasi senilai Rp79 miliar yang diterima Lamongan pada tahun lalu telah memberikan manfaat besar bagi sektor pertanian daerah.

"Kami bersyukur tahun lalu mendapatkan Inpres Irigasi sebesar Rp79 miliar dan tahun ini sudah dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mendukung produktivitas pertanian," ujar Bupati.

Selain penguatan infrastruktur, Pemkab Lamongan juga terus mendorong penggunaan benih unggul, penerapan pola tanam yang lebih adaptif, serta percepatan modernisasi pertanian melalui mekanisasi.

Bupati Yuhronur menjelaskan, transformasi teknologi pertanian di Lamongan kini terus berkembang, mulai dari proses persemaian dan penanaman, pemupukan, penyemprotan hama, hingga panen yang semakin banyak memanfaatkan peralatan modern.

"Pertanian kita terus bertransformasi menggunakan teknologi modern. Mulai dari penanaman benih, pemupukan, penyemprotan hama hingga pemanenan sudah semakin memanfaatkan mekanisasi pertanian," tuturnya.

Dengan berbagai langkah tersebut, baik Wamentan dan Bupati Yuhronur optimistis Lamongan akan terus mampu mempertahankan predikatnya sebagai daerah swasembada pangan sekaligus menjadi lumbung pangan utama di Jawa Timur dan Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....