Sekolah Rakyat Tuban Berhasil Bentuk Kedisiplinan dan Keaktifan Siswa
- 30 Sep 2026 18:50 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Tuban - Proses pembelajaran di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi I Kabupaten Tuban menunjukkan dampak nyata positif. Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tuban, Vera Khairun Nisa, mengungkapkan bahwa pihaknya mencatat adanya perubahan perilaku yang cukup signifikan kepada para siswa selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Perubahan positif ini terlihat jelas jika dibandingkan dengan kondisi siswa sebelum dan sesudah bergabung dengan Sekolah Rakyat. Peningkatan tersebut mencakup aspek kedisiplinan, keberanian, motivasi belajar, hingga keaktifan siswa baik selama kegiatan pembelajaran di kelas maupun dalam aktivitas keasramaan sehari-hari.
Saat ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Tuban membina sebanyak 246 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, dengan rincian, Sekolah Dasar (SD) 14 siswa, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 85 siswa, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 147 siswa, terdiri dari 87 siswa asal Kabupaten Tuban dan 60 siswa asal Kabupaten Bojonegoro.
Setiap hari, para siswa menjalani kegiatan dengan jadwal yang terstruktur. Kegiatan pembelajaran rutin di kelas berlangsung mulai pukul 06.30 hingga 15.30 WIB, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler pada pukul 15.30 hingga 17.00 WIB.
Adapun malam harinya, selepas salat Maghrib hingga pukul 21.00 WIB, para siswa mengikuti program pembinaan keasramaan. "Dari pagi hingga malam hari mereka rutin melakukan kegiatan," tambah Vera.
Suasana belajar yang menyenangkan turut dirasakan langsung oleh para siswa. Adam, Rochim, dan Galang, perwakilan siswa jenjang Sekolah Dasar di SR Terintegrasi I Tuban, mengaku sangat antusias dan senang dapat menuntut ilmu di sekolah ini.
Selain mendapatkan fasilitas pendidikan dan asrama, mereka juga mendapat pemenuhan nutrisi yang baik berupa makan tiga kali sehari serta makanan ringan (snack). "Makanan dan snacknya enak. Kami juga masih ada waktu untuk bermain dan berolahraga, jadi tidak bosan," ujar mereka.
Pendirian Sekolah Rakyat di berbagai daerah ini hadir sebagai jawaban strategis atas tantangan kemiskinan dan persoalan pendidikan di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka putus sekolah pada tahun ajaran 2023/2024 sempat mencatat peningkatan di seluruh jenjang.
Selain itu, tantangan di sektor pendidikan juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, di mana sebanyak 74,51 persen kepala rumah tangga miskin ekstrem berpendidikan SD ke bawah, 32,21 persen anak Indonesia mengalami putus sekolah, serta 730.703 siswa SMP tercatat Lulus Tidak Melanjutkan (LTM). Sebanyak 76 persen keluarga bahkan mengakui faktor ekonomi sebagai alasan utama anak-anak mereka putus sekolah.
Melalui terbitnya Inpres Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem, serta Perpres Nomor 120 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Sekolah Rakyat, kini ratusan siswa di Kabupaten Tuban dan berbagai wilayah di Indonesia kembali mendapatkan hak akses pendidikan yang layak demi masa depan yang lebih cerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....