Warga Tuban Jadikan Pekarangan Rumah untuk Cegah Stunting dan Deteksi Penyakit

  • 30 Jul 2026 21:23 WIB
  •  Tuban

‎‎RRI.CO.ID, Tuban - Upaya menekan angka stunting dan mendeteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular kini telah digerakkan langsung dari tingkat keluarga. Melalui Program Pengembangan Taman Gizi Keluarga (TaGiKa), masyarakat di enam desa di Kabupaten Tuban secara swadaya memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan sekaligus fasilitas pemantauan kesehatan secara berkala.

‎‎Program berkelanjutan ini merupakan inisiatif dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas, yang menggandeng Yayasan eL-SAL Indonesia sebagai mitra pelaksana. Sebagai bagian dari penguatan kapasitas, sebanyak 30 anggota Kelompok Kerja (Pokja) TaGiKa mengikuti pelatihan intensif terkait nutrisi keluarga di Kecamatan Rengel, Kamis 30 Juli 2026.

‎‎Perwakilan EMCL, Feni K. Indiharti, menyampaikan bahwa pelaksanaan program ini mencerminkan komitmen industri hulu migas dalam mendukung agenda strategis pemerintah daerah. Bersamaan dengan kegiatan tersebut, diselenggarakan pula layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi 45 warga setempat.

‎‎Sinergi ini dirancang sejalan dengan program prioritas pembangunan kesehatan di Kabupaten Tuban. "Melalui Program TaGiKa, EMCL berkomitmen penuh mendampingi Pemerintah Kabupaten Tuban dalam meningkatkan taraf kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di sekitar wilayah operasi. Kami berharap penguatan kapasitas kader dan penyediaan fasilitas ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam menekan angka stunting serta mendorong kemandirian kesehatan keluarga secara berkelanjutan," ujar Feni.

‎‎Dalam aspek pemanfaatan lingkungan, Fungsional Analis Ketahanan Pangan dari Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Peternakan (DKP2P) Tuban, Wiwin Rista Kuswanti, mendorong warga untuk melihat pekarangan sebagai sumber pangan yang ekonomis dan berkualitas. "Pemanfaatan lahan ini tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar keluarga lebih peka terhadap pilihan gizi di sekitar mereka," ucapnya.

‎‎Dari sisi medis, Ahli Gizi Puskesmas Soko, Erma Dewiarti, menekankan pentingnya pemenuhan nutrisi seimbang, terutama pada fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). "Periode ini membutuhkan perhatian serius dari keluarga melalui konsumsi pangan beragam dan penerapan perilaku hidup bersih. Kebutuhan gizi terpenuhi bukan hanya dari makanan mahal, melainkan bagaimana kebiasaan sehat itu dibangun sejak dini," kata Erma.

‎‎Selain edukasi pangan, warga juga mendapatkan akses pemeriksaan kesehatan gratis meliputi pengecekan gula darah, kolesterol, asam urat, dan tekanan darah. Seluruh indikator tersebut dipilih karena berkaitan erat dengan status gizi dan pola makan harian masyarakat.

‎‎Pelayanan medis ini terselenggara berkat kolaborasi antara Yayasan eL-SAL Indonesia dan Institut Sains, Teknologi, dan Kesehatan (ISTEK) ICsada Bojonegoro. Selain pemeriksaan fisik, tim tenaga kesehatan turut memberikan sesi konsultasi gratis bagi warga terkait penanganan penyakit tidak menular.

‎‎Ketua Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, menegaskan bahwa penataan pekarangan produktif dan layanan medis merupakan satu kesatuan program yang saling melengkapi. Ketika masyarakat berperan aktif sebagai pengelola, efektivitas program diyakini akan lebih tepat sasaran.

‎‎"Kami berharap anggota Pokja tidak hanya menjadi penerima manfaat pasif. Namun juga motor penggerak yang aktif mengajak lingkungan sekitarnya menerapkan pola hidup sehat," tutur Imam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....