Perkuat Sektor Pangan, Pemkab Bojonegoro Panen Padi Varietas Gamagora
- 28 Feb 2026 22:46 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus berupaya memperkuat ketahanan di sektor pangan. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui panen padi varietas Gamagora 7 yang dilaksanakan di Desa Bayamgede, Sabtu, 28 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang daerah dalam membangun pertanian yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Panen tersebut juga merupakan hasil sinergi antara Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro dan Universitas Gadjah Mada. Kolaborasi ini diarahkan untuk menghadapi dinamika perubahan iklim sekaligus mendorong peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan benih unggul dan inovasi teknologi pertanian.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menegaskan bahwa pertanian tetap menjadi sektor utama dalam agenda pembangunan daerah. Ia menilai keberhasilan sektor ini memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, mengingat sebagian besar warga Bojonegoro bergantung pada aktivitas pertanian.
Oleh karena itu, penguatan tata kelola air disebut sebagai faktor penentu keberlanjutan produksi. Menurutnya, pembangunan embung, perbaikan bendung, serta normalisasi sungai akan terus dilakukan secara bertahap.
"Pengawasan distribusi air juga perlu diawasi dengan ketat, agar pemanfaatannya lebih merata. Keberlanjutan kerja sama riset dan pengembangan benih unggul dengan perguruan tinggi ini juga perlu dilanjutkan," ujar Bupati.
Sementara itu, Kepala DKPP Bojonegoro Zaenal Fanani, memaparkan bahwa produksi padi Bojonegoro sepanjang 2025 mencatatkan kinerja positif. Total produksi mencapai 886.443 ton, atau meningkat sekitar 24,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. "Kenaikan ini bisa dipengaruhi oleh kondisi iklim yang relatif mendukung, saat kemarau basah memperluas areal tanam bisa mencapai hingga sekitar 10.000 hektare," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi tidak lepas dari masifnya pembangunan infrastruktur pengairan. Sepanjang 2025, pemerintah daerah membangun dan merehabilitasi jaringan irigasi sepanjang lebih dari 24 kilometer, menormalisasi puluhan embung, serta menambah belasan titik pompa air. "Langkah ini sangat efektif untuk mengantisipasi risiko banjir akibat curah hujan tinggi," katanya.
Selain infrastruktur, intensitas pendampingan kepada petani juga diperkuat. Kunjungan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) hampir menyentuh angka penuh, disertai pemantauan ketat terhadap potensi serangan hama dan penyakit. Hasilnya, sepanjang tahun tersebut tidak ditemukan gangguan signifikan pada tanaman padi di Bojonegoro.
Memasuki tahun 2026, tantangan produksi diperkirakan meningkat seiring prakiraan iklim yang kembali normal dan berpotensi memicu kemarau kering. Kondisi ini diproyeksikan berdampak pada penurunan luas tanam dan produksi. Meski demikian, pemerintah daerah tetap optimistis mampu menjaga daya saing produksi di tingkat regional melalui inovasi varietas dan pengelolaan sumber daya yang lebih adaptif.
Sebagai langkah antisipasi, DKPP bersama UGM mengembangkan demplot padi Gamagora di lima kecamatan, yakni Dander, Ngasem, Kepohbaru, Sugihwaras, dan Kedungadem. Hasil uji lapangan menunjukkan capaian produktivitas yang menjanjikan, dengan hasil tertinggi tercatat di Desa Bayamgede mencapai sekitar 10 ton gabah kering giling per hektare.
Wakil Dekan Bidang Kerja Sama Fakultas Pertanian UGM, Subejo, menjelaskan bahwa varietas Gamagora dirancang untuk menjawab berbagai persoalan pertanian modern, mulai dari ketidakpastian musim, degradasi tanah, hingga keterbatasan air. "Varietas ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik pada kondisi kelebihan maupun kekurangan air, serta didukung teknologi pendamping ramah lingkungan," katanya.
Melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, akademisi, dan petani, panen Gamagora 7 di Desa Bayamgede menjadi simbol optimisme baru bagi Bojonegoro dalam memperkuat posisi sebagai salah satu daerah penopang pangan nasional yang berkelanjutan.