Goyang Meti Kei Hidupkan Semangat Budaya dan Persatuan

  • 24 Okt 2025 09:16 WIB
  •  Tual

KBRN, Langgur: Goyang Meti Kei bukan sekadar ajang unjuk kebolehan menari, melainkan perayaan kebersamaan dan wujud pelestarian budaya masyarakat Kei. Melalui gerak, irama, dan semangat Ain Ni Ain yang berarti satu hati, satu rasa tarian ini menjadi simbol persatuan dan identitas orang Kei di tengah perkembangan zaman.

Nilai budaya itulah yang menghidupkan kemeriahan Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2025 di Kabupaten Maluku Tenggara. Sebanyak 52 regu peserta siap menampilkan kreativitas terbaiknya dalam babak final lomba Goyang Meti Kei yang digelar di Pantai Ngursarnadan, Desa Ohoililir, pada Kamis (23/10/2025).

Ketua Panitia FPMK, Budi Toffi, menjelaskan lomba Goyang Meti Kei tahun ini terbagi dalam dua kategori, yaitu anak-remaja dan dewasa. Babak penyisihan telah berlangsung pada 20–22 Oktober di dua lokasi utama, yakni Landmark Kota Langgur dan Pantai Ngursarnadan.

“Dari total peserta yang mendaftar, Dewan Juri menetapkan 52 regu untuk melaju ke babak final, terdiri dari 27 regu kategori dewasa dan 25 regu kategori anak-remaja,” ujar Budi Toffi.

Ia menuturkan, seluruh rangkaian lomba berjalan lancar berkat kerja sama dan dukungan berbagai pihak. Antusiasme warga pun sangat tinggi karena seluruh peserta dibebaskan dari biaya pendaftaran.

“Peserta diberi kebebasan berkreasi, baik dalam gerakan maupun kostum, selama lagu pengiring wajib menggunakan ‘Meti Kei’ versi 3,” ucapnya.

Setiap regu terdiri dari enam hingga lima belas orang dengan durasi penampilan tiga hingga lima menit. Para peserta datang dari berbagai kalangan anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang menampilkan interpretasi unik terhadap tarian khas Kei ini.

Menurut Budi, Goyang Meti Kei menjadi salah satu cara menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal yang sarat makna. Tarian ini sebagai bentuk ekspresi kegembiraan dan penghormatan terhadap alam serta kehidupan masyarakat pesisir Kei.

Melalui Goyang Meti Kei, masyarakat Kei tidak hanya menari mengikuti irama, tetapi juga merayakan jati diri dan semangat gotong royong yang telah diwariskan turun-temurun. Festival ini menjadi bukti tradisi dan pariwisata dapat berjalan beriringan, memperkuat identitas lokal sekaligus menarik perhatian dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....