Beda Keyakinan, Satu Persaudaraan: Kesan Mendalam Para Artis di Konser Amal Gereja

  • 04 Okt 2026 19:32 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Langgur-Panggung konser amal Gereja WAB di Stadion Maren Ohoijang, Sabtu malam, 3 Oktober 2026, bukan sekadar panggung musik. Di sana, perbedaan melebur, persaudaraan menguat.

Para artis pengisi acara mengaku pulang dengan kesan mendalam. Bukan hanya soal megahnya konser, tetapi tentang pelajaran hidup dari tanah Kei, di mana beda suku, ras, dan agama tak pernah jadi sekat.

Toton Caribo membuka dengan penuh kebanggaan. Di hadapan puluhan ribu penonton, ia menegaskan identitasnya sebagai anak Kei.

"Saya bangga dan bersyukur hadir mendukung konser amal ini. Saya orang Tanimbar, tapi lahir dan dibesarkan di tanah Kei. Saya bangga jadi orang Kei," seru Toton yang langsung disambut gemuruh penonton.

Bagi Toton, Kei adalah sekolah kehidupan. Tumbuh besar di kompleks UPD Kota Tual, di tengah masyarakat Wab dan Maluku Tenggara, ia belajar arti persaudaraan sejati.

"Saya tumbuh besar bersama orang Kei, orang Wab. Di sana kami diajarkan satu sayang satu. Itulah kita basudara orang Kei. Persaudaraan itu yang membentuk saya sampai hari ini," tuturnya.

Kesan haru juga datang dari Novia Bachmid. Penyanyi jebolan ajang nasional berdarah Arab-Ambon itu tak kuasa menahan haru melihat keindahan toleransi di atas panggung.

"Saya ini orang Ambon turunan Arab. Tadi saya lihat di panggung ada yang tampil dance, ada musik gereja, ada juga Samra. Itu luar biasa. Padahal ini konser amal gereja, tapi persaudaraan di Kei sangat besar tanpa memandang agama, suku dan ras," ucap Novia dengan mata berkaca-kaca.

Dirinya juga mengakui bahwa kei Kabupaten Maluku Tenggara merupakan kali pertama dirinya terlibat dan konser untuk satu Maluku karena selalu berada diluar Maluku bahkan luar negeri

Kapten Hip Hop, rapper bertalenta asal Ohoi Letman, juga menyampaikan kebanggaan yang sama. Sebagai seorang muslim, ia berdiri tegak mendukung konser amal gereja.

"Saya ini anak muslim asal Letman, tapi om, tanta, ade, kaka saya banyak yang ada di Wab. Jadi saya bangga bisa berdiri di sini mendukung penuh konser amal Gereja Wab ini. Inilah Kei yang sesungguhnya," tegasnya lantang.

Lebih dari sekadar kesan, Toton Caribo menitipkan pesan kuat untuk generasi muda Kei. Ia mengajak anak muda Maluku Tenggara dan Kota Tual untuk berani bermimpi besar dan tidak takut menembus panggung nasional.

"Saya dulu bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa. Saya jatuh bangun mengejar mimpi untuk bisa masuk TV. Hari ini, saya bangga bisa membawa nama Kei di tingkat nasional. Tiap hari saya dipanggil masuk TV," kisahnya memberi motivasi.

"Anak-anak muda Kei jangan hanya terpaku di sini. Kalau punya talenta menyanyi, dance, berkarya, jangan takut. Coba hal-hal baru. Tunjukkan diri kalian. Berani melangkah ke depan untuk hidup yang lebih baik," pungkasnya.

Malam itu, Stadion Maren menjadi saksi. Di bawah sorot lampu dan lantunan musik, pesan persaudaraan bergema lebih keras dari musik itu sendiri: beda agama dan keyakinan, tetapi persaudaraan yang mempersatukan. Ain Ni Ain.

Terlihat konser amal bukan saja menyatukan tetapi juga memberikan satu kebahagian tersendiri bukan saja dari para penonton yang menonton konser itu tetapi juga para artis yang terlihat puasa menghipnotis para penonton

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....