Wakil Uskup Pimpin Misa Syukur Lingkungan Rohani Mgr. Jacobus Grents MSC
- 31 Agt 2026 05:31 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Dobo: Perayaan Misa Syukur Lingkungan Rohani Mgr. Jacobus Grents MSC dilaksanakan di Rukun Santo Yohanes Paulus II, Perumahan Perak, Kelurahan Siwalima, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Sabtu (29/8/2026) pukul 19.00 WIT.
Misa Syukur tersebut dipimpin Wakil Uskup Kepulauan Aru, RP. Tino Ulahayanan, MSC. Dalam homilinya, ia mengajak umat menjadikan keluarga sebagai tempat bertumbuh dalam kasih, sekaligus ruang untuk menghadirkan pengampunan dan pemulihan.
Wakil Uskup mengatakan, keluarga merupakan tempat pertama bagi setiap orang untuk mengalami kasih. Dalam keluarga, suami dan istri bertumbuh bersama serta menyatakan cinta dan janji di hadapan Tuhan melalui perkawinan.
Namun, menurutnya, kehidupan keluarga juga tidak terlepas dari berbagai persoalan dan luka. Hubungan yang sangat dekat justru sering membuat seseorang lebih mudah melukai orang yang dicintainya, baik melalui kata-kata kasar, sikap yang tidak menghargai, maupun persoalan masa lalu yang terus diungkit.
“Orang yang paling banyak kita sakiti adalah orang yang paling dekat dengan kita, dan orang yang paling banyak menyakiti kita juga adalah orang yang dekat dengan kita,” ungkapnya dalam homili.
Ia mengingatkan umat pada pengalaman Yesus yang dikhianati dan disangkal oleh orang-orang terdekat-Nya. Karena itu, umat diajak memahami bahwa pengampunan merupakan jalan penting untuk memulihkan hubungan yang rusak.
Mengutip ajaran Yesus tentang pengampunan, Wakil Uskup menegaskan bahwa pengampunan tidak hanya dilakukan beberapa kali, tetapi tanpa batas dan tanpa syarat.
“Bukan tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh. Artinya, pengampunan itu tanpa batas dan tanpa syarat,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Kesalahan tetaplah kesalahan, tetapi pengampunan berarti seseorang tidak membiarkan luka dan persoalan tersebut terus menguasai hati dan kehidupannya.
Menurut Wakil Uskup, ketika seseorang menyimpan konflik terlalu lama, dirinya sendiri yang akan terus mengalami ketidaknyamanan. Karena itu, pengampunan menjadi jalan untuk membebaskan hati dan memulihkan kembali kasih yang telah rusak.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Uskup juga membagikan sejumlah pengalaman pastoral mengenai keluarga yang mengalami persoalan berat, termasuk konflik suami istri dan luka dalam hubungan antara orang tua dan anak. Dari berbagai pengalaman tersebut, ia mengajak umat berani mengambil langkah pertama dalam membangun kembali hubungan yang rusak.

“Orang pertama yang mengambil langkah untuk meminta maaf bukanlah orang yang kalah, tetapi justru orang yang memiliki keberanian untuk menyelamatkan keluarga,” kata Wakil Uskup.
Wakil Uskup juga mengajak keluarga membangun kebiasaan sederhana melalui tiga ungkapan penting, yakni meminta maaf, mengucapkan terima kasih, dan menyatakan kasih.
Menurutnya, tiga hal sederhana tersebut perlu terus dilakukan dalam kehidupan keluarga. Suami dan istri perlu berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, saling mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang dilakukan, serta terus menyatakan kasih dalam berbagai situasi.
Ia mengingatkan bahwa cinta yang tulus tidak boleh bergantung pada kondisi tertentu.
“Kalau memang salah, belajar meminta maaf. Kalau ada kebaikan, sampaikan terima kasih. Dan yang ketiga, tetap mengasihi apa pun situasi dan keadaannya,” pesannya.
Lebih lanjut dikatakan, keluarga yang tidak mengenal pengampunan perlahan-lahan dapat kehilangan kasih. Luka kecil yang tidak diselesaikan dapat berubah menjadi kepahitan, sementara jarak yang dibiarkan terus-menerus dapat menghancurkan hubungan dalam keluarga.
Karena itu, umat diajak bertanya kepada diri masing-masing, kepada siapa mereka perlu memberikan pengampunan dan kepada siapa mereka perlu meminta maaf.
Pengampunan, lanjutnya, tidak cukup hanya diucapkan dalam hati atau melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ia juga mengajak umat untuk tidak menunggu seseorang meninggal dunia baru menyadari pentingnya kasih, perhatian, dan pengampunan.
“Selagi masih hidup, berikan perhatian, kasih dan pengampunan. Jangan sampai ketika seseorang sudah meninggal baru kita menangis dan menyesal karena tidak memberikan kasih ketika dia masih hidup,” ujarnya.
Mengakhiri homilinya, Wakil Uskup mengajak seluruh umat menjadikan Ekaristi sebagai kesempatan untuk memohon penyembuhan bagi setiap luka yang masih ada dalam hati, terutama luka yang terjadi di dalam keluarga.
Ia mengajak umat memohon kepada Tuhan agar diberikan kekuatan untuk mengampuni, keberanian untuk meminta maaf, serta kemampuan untuk terus mengasihi tanpa syarat.
Misa Syukur Lingkungan Rohani Mgr. Jacobus Grents MSC tersebut diikuti umat Rukun Santo Yohanes Paulus II, umat Rukun Santo Yohanes XXIII, dan umat Rukun Santo Ignatius de Layola dengan penuh kebersamaan. Perayaan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kehidupan iman, persaudaraan, serta kasih dalam keluarga dan kehidupan umat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....