Damkar Aru Keterbatasan Armada dan Peralatan, Kebakaran Lahan Terus Terjadi

  • 21 Agt 2026 16:06 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Dobo - Insiden Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih terus terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) karena keterbatasan armada maupun sarana pendukung pemadaman.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Dinas Damkar Kepulauan Aru, Ansari Notanubun, kepada RRI di ruang kerjanya, Jumat (21/8/2026), mengatakan sejak akhir Juli hingga Agustus 2026, pihaknya menangani sejumlah kebakaran lahan yang terjadi di berbagai lokasi.

Menurut Ansari, kebakaran lahan menjadi salah satu insiden yang paling sulit ditangani karena lokasi titik api sering berada jauh dari jangkauan selang mobil pemadam. Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan pemadaman secara manual menggunakan peralatan seadanya.

"Yang paling menjadi beban bagi kami adalah ketika datang ke lokasi, kami hanya bermodalkan keberanian dan alat pelindung diri yang sangat terbatas," ujar Ansari.

Ia mengungkapkan, kondisi sarana dan prasarana Damkar Kepulauan Aru saat ini masih sangat minim. Bahkan, dari sejumlah selang yang dimiliki, hanya dua selang yang masih dalam kondisi baik, sementara lainnya mengalami kerusakan dan terus diperbaiki dengan cara tambal sulam.

Lebih memprihatinkan lagi, dari dua unit mobil pemadam yang dimiliki, saat ini hanya satu unit yang dapat digunakan, sedangkan satu unit lainnya mengalami kerusakan.

"Kalau saya bicara begini, ini fakta yang terjadi di lapangan. Selang yang ada di mobil tinggal dua yang masih baik. Yang lainnya rusak dan sementara kami tambal sulam," kata Ansari.

Ansari menjelaskan, keterbatasan armada menjadi persoalan serius ketika terjadi kebakaran di beberapa lokasi dalam waktu bersamaan. Satu unit mobil pemadam harus menangani berbagai permintaan masyarakat, sementara proses pemadaman membutuhkan waktu, terutama ketika sumber air jauh dari lokasi kebakaran.

Dalam kondisi tertentu, petugas bahkan harus menggunakan daun, ranting atau bagian tanaman untuk memadamkan api sambil menunggu bantuan maupun pasokan air.

Ia menyebutkan, sepanjang periode tersebut terdapat sejumlah titik kebakaran yang harus ditangani petugas. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir kebakaran lahan disebut hampir tidak pernah terputus.

"Mulai dari akhir bulan sampai dengan hari ini, kebakaran tidak pernah terputus. Setiap hari ada saja kebakaran hutan atau lahan," ungkapnya.

Selain keterbatasan peralatan, persoalan komunikasi di lapangan juga menjadi kendala. Petugas yang berada di bagian depan dan operator di mobil pemadam membutuhkan komunikasi yang cepat untuk mengatur tekanan air, arah penyemprotan, maupun pergerakan selang.

Ansari mengatakan, kondisi tersebut akan menyulitkan petugas apabila tidak didukung alat komunikasi yang memadai.

"Orang yang berada di depan dengan petugas di unit harus ada komunikasi. Misalnya meminta tekanan air atau mengarahkan selang ke kanan dan kiri. Ini yang selama ini menjadi kendala," jelasnya.

Ia menambahkan, pihaknya sebelumnya juga pernah meminta bantuan mobil tangki air ketika terjadi kebakaran besar. Namun, bantuan tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan pemadaman secara maksimal karena hanya datang satu kali.

Terkait kondisi tersebut, Ansari berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru dapat memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan Damkar, terutama penambahan armada, perbaikan peralatan pemadam, selang, alat pelindung diri, serta perangkat komunikasi.

Ia mengatakan, persoalan tersebut juga telah disampaikan kepada DPRD Kabupaten Kepulauan Aru ketika pihak Damkar dipanggil untuk menyampaikan kondisi dan kendala yang dihadapi petugas di lapangan.

Ansari menegaskan, tugas pemadam kebakaran bukan hanya menangani kebakaran gedung, tetapi juga menyangkut tugas kemanusiaan untuk menyelamatkan harta benda hingga nyawa masyarakat.

"Ini tugas kemanusiaan. Kami membantu masyarakat yang membutuhkan. Ketika masyarakat punya harta benda bahkan nyawa yang harus diselamatkan, kami juga mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan mereka," tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran, khususnya pada musim kemarau. Percikan api yang berasal dari aktivitas masyarakat, baik disengaja maupun tidak disengaja, dapat dengan cepat meluas apabila disertai angin kencang.

"Kami berharap kepada masyarakat di Kabupaten Kepulauan Aru, khususnya di Pulau-Pulau Aru, mari kita sama-sama menjaga lingkungan. Jangan sampai terjadi kebakaran di mana-mana," katanya.

Ansari menilai, kebakaran lahan jauh lebih sulit ditangani dibandingkan kebakaran bangunan karena petugas harus berhadapan dengan medan yang sulit, asap, debu, angin, serta lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

"Kalau kita memadamkan kebakaran gedung, mungkin lebih mudah karena aksesnya jelas. Tetapi kalau kebakaran lahan, itu yang paling rumit karena kami harus berhadapan dengan asap, debu dan medan yang sulit," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....