Sekolah Rakyat Tual Terapkan Matrikulasi untuk Petakan Potensi Siswa
- 16 Agt 2026 18:55 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Tual: Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 74 Kota Tual menerapkan program matrikulasi sebagai tahap awal untuk memetakan kemampuan akademik, bakat, minat, serta kebutuhan belajar setiap siswa. Program tersebut dinilai penting karena peserta didik SR memiliki latar belakang pendidikan yang sangat beragam, termasuk sebagian yang pernah mengalami putus sekolah.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 74 Kota Tual, Haerul, mengatakan matrikulasi dilaksanakan sekitar satu hingga dua bulan. Tahapan ini menjadi dasar bagi sekolah dalam menentukan penempatan kelas sekaligus merancang pola pembinaan siswa.
“Di awal nanti di sekolah ada namanya matrikulasi. Jadi penyesuaian kompetensi awal siswa supaya keterlambatan-keterlambatan ini bisa menyesuaikan dengan kondisi yang sudah ada,” kata Haerul dalam dialog interaktif Evav Pagi Ini, Programa 1 RRI Langgur, Jumat (14/8/2026).
Menurut Haerul, keberagaman kemampuan menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Dalam satu tingkat pendidikan, misalnya, masih terdapat siswa yang belum mampu membaca meskipun secara usia dan jenjang pendidikan seharusnya sudah berada di tingkat yang lebih tinggi.
Karena itu, sekolah memberikan pembelajaran tambahan di luar jam pelajaran reguler untuk membantu siswa mengejar ketertinggalan.
“Bagaimana cara kita di sekolah supaya anak-anak tadi yang belum tahu baca, kemudian kita bimbing dan arahkan supaya mereka bisa menyesuaikan dengan teman-temannya,” ujarnya.
Selain kemampuan akademik, sekolah juga menggali riwayat pendidikan dan alasan siswa mengalami putus sekolah. Informasi tersebut digunakan sebagai bagian dari asesmen awal untuk menentukan kebutuhan pembinaan setiap anak.
SR Terintegrasi 74 Kota Tual menggunakan pendekatan multi-entry multi-exit. Dengan pendekatan tersebut, siswa dapat masuk pada usia dan tingkat kompetensi yang berbeda, kemudian menyelesaikan pendidikan setelah memenuhi target kompetensi yang ditetapkan sekolah.
Penempatan kelas tidak semata-mata berdasarkan usia. Riwayat pendidikan, dokumen pendukung, serta hasil asesmen menjadi pertimbangan dalam menentukan tingkat pendidikan yang sesuai.

Haerul mencontohkan, siswa berusia 12 tahun tidak otomatis ditempatkan pada tingkat pendidikan tertentu apabila kemampuan akademiknya belum sesuai. Jika sebelumnya siswa tersebut berhenti sekolah di kelas 4 SD, penempatannya dapat dikembalikan ke kelas 4 setelah melalui proses verifikasi dan asesmen.
Untuk membantu proses pemetaan, SR juga memanfaatkan fasilitas Talent DNA yang disediakan Kementerian. Melalui tes tersebut, sekolah dapat memperoleh gambaran mengenai kompetensi serta bakat siswa.
“Setiap masuk ada tes Talent DNA untuk seluruh siswa,” kata Haerul.
Haerul menekankan, hasil asesmen tidak hanya menjadi tanggung jawab guru tertentu. Seluruh guru dan tenaga kependidikan, termasuk wali asuh, harus memahami karakter dan kebutuhan setiap siswa.
Keseragaman pola pembinaan dinilai penting karena pendidikan siswa berlangsung di sekolah dan asrama. Aturan serta pendekatan yang diterapkan di kedua lingkungan tersebut harus berjalan selaras.
Pada angkatan pertama, proses matrikulasi juga telah dilakukan selama sekitar dua bulan. Dari proses pendidikan tersebut, tiga siswa jenjang Sekolah Rakyat Dasar (SRD) telah dinyatakan lulus dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP)
Khairul mengatakan pengalaman angkatan pertama menjadi pembelajaran penting bagi sekolah untuk memperbaiki pola asesmen, penempatan, dan pembinaan pada angkatan berikutnya.
Dengan pendekatan tersebut, SR Terintegrasi 74 Kota Tual tidak hanya mengejar ketuntasan akademik, tetapi juga berupaya menemukan potensi setiap anak serta memberikan kesempatan pendidikan sesuai kemampuan dan kebutuhan mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....