Mahasiswa UGM Jatuh Hati pada Kehangatan Masyarakat Kei
- 15 Agt 2026 15:15 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Tual: Kehangatan masyarakat Desa Labetawi, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kota Tual, meninggalkan kesan mendalam bagi Herlina Yulianti, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Pengabdian Masyarakat (PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang telah menjalani program pengabdian di wilayah tersebut.
Herlina yang tergabung dalam Tim Tualang Tual, saat diwawancarai beberapa hari sebelum kembali ke daerah asalnya pada 12 Agustus 2026, mengaku tiba di Desa Labetawi pada 21 Juni 2026 setelah menempuh perjalanan sekitar lima hari dari Surabaya menuju Ambon, kemudian melanjutkan perjalanan ke Maluku Tenggara. Meski kurang lebih 2 bulan di Kei, ia mengaku betah dan merasa diterima sebagai bagian dari keluarga masyarakat setempat.
Ketertarikannya memilih Kepulauan Kei berawal dari keinginan mengenal budaya dan keindahan alam daerah tersebut. Ia juga terinspirasi pengalaman tim KKN UGM sebelumnya yang menggambarkan masyarakat Desa Labetawi sebagai komunitas yang ramah dan hangat.
“Orang di sini lebih Jawa daripada orang Jawa. Lebih baik, lebih sopan, lebih merangkul,” ujar Herlina.
Menurutnya, masyarakat di wilayah timur Indonesia kerap dipandang keras, padahal pengalaman langsung di Labetawi justru menunjukkan keramahan, kasih sayang, dan keterbukaan yang luar biasa.
Selama berada di Labetawi, mahasiswa Teknik Kimia UGM ini bersama tim menjalankan berbagai program fisik dan nonfisik. Di antaranya penyediaan tempat sampah, revitalisasi lingkungan kampung, pembangunan fasilitas bermain, pemasangan lima lampu tenaga surya, serta pembuatan 20 papan identitas UMKM bagi warga.
Tim juga mengembangkan potensi wisata melalui pelatihan pemandu wisata, bahasa Inggris dan komunikasi, penyusunan paket wisata, pembuatan katalog elektronik, Linktree, serta pengelolaan media sosial. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas pemuda dan masyarakat dalam mengembangkan wisata Desa Labetawi.
Kedekatan dengan masyarakat bahkan membuat Herlina dan sejumlah anggota tim mendapatkan marga atau sapaan khas dari keluarga yang mereka anggap sebagai orang tua selama berada di Kei. Herlina kemudian mendapat nama “Herlina Yulianti Renleuw” sebagai bentuk kedekatan dan penerimaan keluarga angkatnya.
Menjelang kepulangan pada 12 Agustus, Herlina mengaku berat meninggalkan Desa Labetawi. Ia berencana tetap menjaga komunikasi dengan masyarakat melalui pesan dan panggilan video, serta berharap dapat kembali berkunjung dan menginap di Labetawi suatu hari nanti.
“Kalau ada waktu dan bisa kembali ke sini, pasti akan mengunjungi Desa Labetawi lagi, untuk mengenang rasa rindu itu,” kata Herlina.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....