KKN UGM Petakan Risiko Kebencanaan akibat Perubahan Iklim di Maluku Tenggara

  • 30 Jun 2026 21:09 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) akan memetakan potensi risiko kebencanaan akibat perubahan iklim di Kabupaten Maluku Tenggara sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat tahun 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat kepulauan yang masih rentan terhadap dampak perubahan iklim, Selasa (30/6/2026).

Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM, Prof. Ir. Leni Sophia Helian, mengatakan program tersebut dijalankan oleh mahasiswa yang tergabung dalam klaster sains dan teknologi (sainstek). Klaster ini terdiri atas mahasiswa dari Fakultas Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Fakultas Geografi, serta Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota.

Menurut Leni, selain melakukan pemetaan risiko kebencanaan, mahasiswa juga akan mengidentifikasi kondisi infrastruktur yang ada di lokasi pengabdian. Hasil identifikasi tersebut diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan wilayah yang lebih adaptif terhadap tantangan perubahan iklim di masa mendatang.

“Mereka fokus terkait dengan infrastruktur, mengidentifikasi dan kemudian mencoba memberikan arahan pengembangan terkait dengan infrastruktur di sini,” kata Leni.

Leni menjelaskan, mahasiswa dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota juga akan berkolaborasi dengan mahasiswa pariwisata dalam menyusun konsep pengembangan kawasan wisata di Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan (KKTS). Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan perencanaan pariwisata yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.

Menurut Leni, Maluku Tenggara sebagai daerah kepulauan memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap berbagai dampak perubahan iklim. Karena itu, mahasiswa akan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai perubahan iklim dan langkah-langkah adaptasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami concern terkait dengan potensi kebencanaan akibat perubahan iklim yang saya kira di Kabupaten Maluku Tenggara memiliki risiko yang tinggi terkait dengan dampak perubahan iklim,” ujar Leni.

Selain pemetaan dan edukasi, UGM juga menyiapkan program pendidikan perubahan iklim yang diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan di tingkat ohoi. Program tersebut dirancang agar masyarakat dapat mengintegrasikan pemahaman tentang perubahan iklim ke dalam berbagai aktivitas, mulai dari pertanian, perikanan hingga pengelolaan pangan.

“Kami ada terkait dengan pendidikan perubahan iklim yang nanti harapannya akan dilembagakan di ohoi dalam mengimplementasikan kehidupan sehari-harinya,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....