Toleransi Maluku Tenggara Jadi Laboratorium Kebangsaan bagi Mahasiswa KKN UGM
- 30 Jun 2026 16:00 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur – Kehangatan hubungan antarumat beragama di Kabupaten Maluku Tenggara menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sedang menjalankan pengabdian di wilayah tersebut. Nilai toleransi yang hidup dalam keseharian masyarakat menjadi pembelajaran nyata tentang kebhinekaan Indonesia, Selasa (30/6/2026).
Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM, Prof. Ir. Leni Sophia Helian, mengatakan mahasiswa memperoleh pengalaman langsung tentang kehidupan masyarakat yang berbeda agama namun tetap hidup harmonis dalam satu lingkungan sosial. Kondisi itu terlihat jelas di sejumlah ohoi seperti Elaar Ngursoin dan Ohoi Elaar Lamagorang yang menjadi lokasi pengabdian mahasiswa.
“Kami melihat bagaimana meskipun berbeda, tetapi mereka sangat hangat. Itu yang saya kira menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa bahwa kita memang berbeda, tetapi betul-betul satu,” ujarnya.
Selama mendampingi mahasiswa KKN-PPM UGM di Ohoi Elaar Ngursoin dan Ohoi Elaar Lamagorang dalam beberapa hari terakhir, Leni mengaku merasakan secara langsung keramahan serta keterbukaan masyarakat Maluku Tenggara dalam menerima kehadiran mahasiswa di tengah kehidupan mereka. Seluruh lapisan masyarakat, mulai dari para tetua adat hingga anak-anak, menyambut kehadiran mahasiswa dengan penuh ketulusan.
“Masyarakat betul-betul sangat terbuka dan itu membuat hati kami menjadi hangat, diterima dengan senyum yang luar biasa tulus,” katanya.
Menurut Leni, pengalaman itu menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa UGM yang mayoritas berasal dari Pulau Jawa dan berbagai kota besar, termasuk Jakarta, karena sebagian baru pertama kali menginjakkan kaki di kawasan Indonesia Timur. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat setempat, mahasiswa belajar beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya yang berbeda dari daerah asal mereka.
“Ini merupakan salah satu pembelajaran yang sangat besar bagi adik-adik mahasiswa UGM bagaimana kemudian beradaptasi dengan berbagai lingkungan yang belum pernah mereka alami sebelumnya,” ucapnya.
Ia menilai kehidupan masyarakat Maluku Tenggara mencerminkan semangat persatuan Indonesia yang sesungguhnya, meski berada di tengah keberagaman agama dan latar belakang sosial. Baginya, pengalaman tersebut memperlihatkan perbedaan tidak menjadi penghalang untuk membangun komunikasi, kerja sama, dan rasa persaudaraan.
“Kita betul-betul berbeda, kita dipisahkan oleh pulau, tapi kita betul-betul sama, bersatu sebagai bagian dari Indonesia,” ujar Leni.
Lebih lanjut, Leni menyoroti tingginya toleransi yang hidup dalam hubungan kekeluargaan masyarakat setempat, termasuk dalam satu marga yang memeluk agama berbeda. Ia menilai praktik hidup berdampingan secara damai itu layak menjadi contoh bagi masyarakat luas di Indonesia bahkan dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....