Sampah Sebagai Sumber Masalah Menjadi Peluang Ekonomi
- 03 Mei 2026 21:13 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - Masalah pengelolaan sampah merupakan permasalahan serius yang dihadapi oleh banyak masyarakat di berbagai wilayah. Salah satunya di Kabupaten Maluku Tenggara, dengan pertumbuhan penduduk dan gaya hidup modern telah meningkatkan volume sampah secara signifikan, sementara kurangnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah secara bijak turut berkontribusi terhadap masalah ini.
Oleh karena itu, diperlukan upaya nyata untuk mengubah paradigma siswa dalam memandang sampah sebagai sumber masalah menjadi peluang ekonomi yang dapat memeberikan dampak positif bagi siswa, karena dengan ketrampilan yang dimiliki siswa dengan berbagai ide, inovatif dan kreatif siswa, maka akan mendatangakan cuan bagi mereka.
Hal ini disampaikan oleh Guru Mata Pelajaran Muatan Lokal pada SMP N 1 Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara, Min Katmaerubun usia mengikuti Pameran Pendidikan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara, baru-baru ini.
Dengan terus-menerus memberikan Motivasi dan pendampingan secara berkala kepada siswa sehingga mereka memiliki potensi untuk menjadi sebuah alat transformasi yang efektif dalam membentuk karakter yang lebih peduli lingkungan dan mandiri secara ekonomi.
Guru mata pelajaran muatan lokal ini menjelaskan. Setelah menyelesaikan karya, siswa diminta untuk mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Dengan cara ini, mereka dilatih untuk percaya diri, menghargai hasil kerja sendiri, dan saling memberi apresiasi terhadap karya teman-teman mereka. Kegiatan ini menciptakan suasana yang positif dan membangun.
“Guru hanya memantau dan membimbing para siswa saat produksi prodak mereka, usai mengerjakan hasil karya lokal siswa sendiri mempresentasekan hasil kerajinan tangan mereka kepada guru dan siswa lainya dalam kegiatan praktik tersebut. Kegiatan praktik ini dilakuka saat jam istirahat atau libur sehingga mereka konsentrasi dalam mengerjakan karya mereka.” Ucapnya
Kenapa, ungkap Min Katmairubun, karena Mengubah sampah menjadi rupiah (nilai ekonomi) sekaligus melestarikan budaya lingkungan adalah langkah nyata menuju keberlanjutan. Paradigma ini menggeser pandangan sampah sebagai limbah tidak berguna menjadi peluang ekonomi kreatif.
Untuk itu, para siswa terus di asah agar mereka tetap berinovasi dan kreatif sesuai dengan bakat mereka masing-masing dalam berkarya dan menciptakan hasil karya lokal seperti tempat tisu keramik, lampu hias, hiasan dinding dan kerajinan lainya dari daur ulang sampah.
“Bahan lokal yang kami dapatkan dari daerah kei sendiri, prodak yang kami hasilkan dari kulit kerrang dan daur ulang sampah, bagi kami sampah memiliki nilai ekonomi di situlah kami bisa dapatkan bahan-bahan pembuatan hasil karya kami, anak-anak mereka sangat kreatif sekali ketika menyulam, menggunting dan menempel bahan-bahan daur ulang sampah itu menjadi produk yang bisa di jual dipasaran.” Tambah Min katmaerubun
Dikatakan, Regenerasi perajin bukan sekadar wacana, ini adalah langkah nyata menjaga keberlanjutan kriya lokal. Maka siswa harus menjaga kearifan lokal dan budaya yang diwariskan oleh leluhur, sehingga karya-karya mereka dari hasil daur ulang sampah menjadi karya yang indah dan memiliki hasil ekonomis.
Min Katmaerubun mengatakan, walaupun dengan keterbatasan anggaran dalam mendukung kegiatan para siswa tetapi tidak menyurutkan semangat mereka dalam berkarya, selain itu juga Katmaerubun berikan apresiasi kepada orang tua siswa yang punya peran penting dalam mendukung dan mempromosikan hasil karya para siswa baik secara offline maupun online lewat media sosial facebook.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....