Duan Lolat, Identitas Budaya Masyarakat Tanimbar
- 11 Jan 2026 13:22 WIB
- Tual
KBRN, Tual: Di bawah langit Kepulauan Tanimbar, Maluku, kehidupan tidak berjalan sekadar mengikuti detak jam modern, melainkan dipandu oleh sebuah kompas kuno yang disebut Duan Lolat. Filosofi ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan detak jantung masyarakatnya. Berasal dari kata Ndrue yang berarti tuan atau penguasa, Duan diposisikan sebagai "pemegang napas," sang pemberi kehidupan dan pelindung. Sebaliknya, Lolat adalah sang hamba, penopang yang siap berbakti. Hubungan keduanya digambarkan dengan sangat puitis: Duan (ompak ain) adalah tanah yang diam menanti, sementara Lolat (Uadan ain) adalah hujan yang jatuh membasahi bumi demi sebuah kesuburan.
Dalam praktiknya, keseimbangan ini paling nyata terlihat dalam institusi perkawinan. Di Tanimbar, kehadiran anak perempuan adalah berkah tertinggi karena ia adalah penyambung garis keturunan Duan. Ketika seorang perempuan menikah, saudara laki-lakinya secara otomatis naik takhta menjadi Duan bagi pihak keluarga laki-laki (Lolat). Hubungan ini melahirkan tanggung jawab yang sakral: Duan wajib memberikan perlindungan yang disebut Teter Lere (pelindung dari panas dan hujan) melalui pemberian kain tenun Tais, sementara Lolat membalasnya dengan pengabdian berupa penyediaan sopi sebagai simbol penghormatan.
Namun, di balik keindahan filosofisnya, Duan Lolat juga merupakan hukum adat yang tegas dan penuh prestise. Urusan mahar atau harta kawin menjadi panggung pembuktian martabat keluarga. Prosesnya begitu panjang dan dramatis, mulai dari utusan keluarga perempuan yang membawa Lufu (bakul) sebagai kode permintaan harta, hingga prosesi tawar-menawar emas atau Lelbutir yang melibatkan ratusan orang dari desa berbeda. Jika kesepakatan tercapai, sorak-sorai "urah-urah" akan pecah, menandakan bahwa ikatan hukum adat telah sah dan kedua keluarga kini terikat dalam relasi pemberi dan penerima yang abadi.
Uniknya, sistem ini bersifat dinamis dan berputar bagai roda. Sebuah keluarga bisa menjadi Lolat bagi satu pihak, namun di saat yang sama menjadi Duan yang berwibawa bagi pihak lainnya. Inilah yang menjaga kohesi sosial di Tanimbar tetap kokoh; setiap orang belajar untuk menghormati sekaligus mengayomi. Melalui Duan Lolat, masyarakat Tanimbar tidak hanya melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga merawat sebuah ekosistem sosial di mana keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat menjadi fondasi utama dalam menyelesaikan segala konflik kehidupan.