Kelompok Usaha kain Tenun ‘‘Awa Eras’’ Terus Meningkat
- 21 Sep 2025 20:39 WIB
- Tual
KBRN, Langgur: Awa Eras yang artinya kelompok ‘Yang Baik’ dari desa Fursui kecamatan selaru, kecamatan tanimbar selatan, kabupaten kepulauan tanimbar. Kelompok ini menenun khusus tenun ikat motif khas Selaru dengan nama Abu-abu Naik dan Tais Matan yang menjadi andalannya.
Ketua Kelompok Awa Eras, Ibu silas, saat dihubunggi beberapa waktu lalu mengatakan, kelompok usaha ini telah berdiri sejak kurang lebih sepuluh tahun silam hingga sekarang masih produktif dan telah menjadikan mata pencaharian bagi pelaku kerajinan kain tenun pada anggota usaha kelompok tersebut.
Ibu Silas mengakui dirinya beserta anggota kelompok lain berjumla 8 orang, rata-rata berasal dari desa yang sama yakni desa Fursui kecamatan Selaru, dengan sistem pemasaran dipajang langsung di lapak masing-masing anggota.
Karena kelompok usahanya dianggap sudah cukup terkenal sehingga masyarakat di kota saumlaki dan sekitarnya mudah untuk menjangkaunya. "Kami berjumlah delapan orang semua dari kecamatan selaru."Tutur Ibu Silas.
Dikatakan pula bagi anggota yang memproduksi kain tenun yang banyak, maka dia akan mendapatkan hasil yang banyak pula. Namun diakuinya selama ini rata-rata dirinya bersama anggota hampir semua memproduksi sama banyak hasilnya, dan penjualan semakin meningkat dari tahun ketahun.
Saat ditanya berapa banyak jumlah potong kain yang terjual selama kurun waktu satu bulan, ia menjawab antara lima hingga enam potong kain tergantung kebutuhan konsumen.
Ibu silas menambahkan kainnya bisa laku keras disaat event - event tertentu seperti pagelaran seni budaya dan juga pada saat kunjungan pejabat negara seperti kunjungan Presiden RI dan Menteri Sosial pada beberapa waktu lalu, yang di order langsung dari dinas terkait.
Ibu silas juga menjelaskan perbandingan pembuatan bahan dasar kain tenun pada tahun tujuh puluhan yang dinilai sangat sulit sehingga hasil produktivitasnya sangatlah minim karena diproses dari bahan alami yang memakan waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan satu potong kain.
Akibat kesulitan membuat bahan dasar, maka hanya bisa membuat dua warna saja, yakni warna hijau dan merah, jika dibandingkan zaman sekarang, bahan dasarnya sangat mudah dijangkau karena dijual secara instan di pasaran atau di toko-toko.
Dengan begitu mereka lebih efisien menghasilkan sepotong kain hanya membutuhkan waktu dua sampai tiga hari saja dengan beragam warna.